Alat ini membuat Anda bisa mengunyah dan merasakan makanan dari dunia Virtual Reality!

Saya yakin sudah banyak dari Anda yang mengenal teknologi Virtual Reality (VR). Teknologi interaksi virtual yang semakin populer di dunia gaming maupun komunikasi jarak jauh ini memang menjadi salah satu teknologi revolusioner yang semakin luas penggunaannya. Namun bayangkan jika kali ini VR dapat melakukan sesuatu yang lebih dari hanya teknologi visual! Saat Anda sedang bermain sebuah permainan virtual, Anda diminta untuk memakan sesuatu di dalam permainan tersebut, dan tunggu! Anda seperti bisa mengunyah dan merasakan apa yang sedang Anda makan!

Inilah teknologi “makanan virtual” yang sedang dikembangkan para peneliti untuk menggunakan peralatan elektronik khusus yang mampu mensimulasikan rasa dan sensasi memakan sebuah makanan virtual selayaknya makanan asli. Teknologi ini menambahkan sensor baru ke teknologi VR sehingga memberikan sensasi lebih nyata lagi di saat pengguna melakukan makan malam virtual.

Adalah Nimesha Ranasinghe dari National University of Singapore, dengan sukses membuat sebuah elektroda yang mampu memberikan sensasi perbedaan rasa asin, hambar, dan pahit ke alat “lolipop digital”-nya. Namun penelitian yang ia lakukan nampaknya masih belum berhasil mensimulasikan rasa manis. Tentu jika saja nanti digitalisasi rasa manis ini berhasil ia kembangkan, maka para pengidap diabetes akan memiliki satu lagi alternatif “gula” bagi mereka.


Pengembangan terbaru dari penelitian Ranasinghe adalah berusaha mensimulasikan perbedaan suhu makanan. Bersama rekannya Ellen Yi-Luen Do, mereka membuat sebuah elemen termoelektrik yang dapat diatur perubahan suhunya. Alat ini diujicobakan ke beberapa responden dengan jalan menempelkan ujung lidah responden ke permukaan alat ini. Separuh dari responden berhasil merasakan sensasi yang diharapkan oleh Ranasinghe dan Ellen. Beberapa diantaranya seperti merasakan pedas pada saat alat diatur pada suhu 35°C dan rasa mint saat alat ini diatur pada temperatur sekitar 18°C.

Indera perasa kita seakan mudah untuk dimanipulasi menggunakan peralatan khusus karya Ranasinghe ini. Namun bagaimana dengan tekstur dari makanan? Bukankah ini juga faktor penting dari sebuah makanan? Sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh tim dari University of Tokyo, berhasil mempresentasikan sebuah alat yang mampu mensimulasikan sensasi mengunyah makanan dengan berbagai macam tekstur. Arinobu Niijima dan Takefumi Ogawa membuat sebuah alat yang mereka beri nama Electric Food Texture System (EFTS). Alat ini juga menggunakan elektroda sebagai elemen simulasi, namun tidak seperti alat milik Ranasinghe dan Ellen yang harus diletakkan di ujung lidah. EFTS ini meletakkan sebuah alat di permukaan otot pipi pengguna – otot yang aktif pada saat mengunyah makanan – untuk memberikan sensasi keras ataupun lunak dari makanan virtual.

“Tidak ada makanan di dalam mulut, tetapi pengguna akan merasakan sensasi mengunyah makanan seiring dengan stimulus elektrik yang diberikan ke otot pipi,” demikian penjelasan Niijima.

Untuk memberikan tekstur keras, para peneliti memberikan stimulus frekuensi tinggi kepada otot pipi. Sedangkan untuk sensasi makanan elastis, diberikan stimulus elektrik yang lebih panjang.

Kedua alat ini memang masih terus dalam tahap pengembangan. Keberadaannya tidak hanya akan memberi sensasi lebih bagi pengguna gadget Virtual Reality nantinya, namun alat-alat tersebut juga sangat berguna dalam dunia kesehatan terutama untuk kebutuhan diet khusus dan alergi.

Credit: NewScientist

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply