Awas! Terlalu lama terpapar cahaya akan melemahkan tulang Anda!

Selama ini sinar matahari kita kenal sangat bermanfaat bagi tulang manusia. Sinar matahari kita ketahui mengandung pro-vitamin D yang akan diubah oleh tubuh kita menjadi vitamin D yang bermanfaat untuk memperkuat tulang. Namun rupanya hal tersebut tidak selamanya benar, sebab penelitian terbaru yang telah dilakukan oleh ilmuwan dari Leiden University Medical Center, Belanda, menyebutkan bahwa jika seseorang terlalu lama terpapar cahaya, segala bentuk cahaya bahkan termasuk matahari, justru akan melemahkan tulang mereka.  Tak hanya itu, hal yang sama juga akan mengakibatkan turunnya imunitas dari orang tersebut.

Eksperimen ini melibatkan 134 tikus, yang tidak pernah mengalami masa gelap selama enam bulan berturut-turut. Pada akhir percobaan, ternyata tikus-tikus tersebut kehilangan kekuatan tubuh hingga separuhnya, hal ini termasuk kekuatan cengkeraman, kemampuan bergelantung pada sebuah batang, hingga sinyal internal tubuh mereka yang juga melemah.


Tulang tikus-tikus tersebut juga mengalami dampak yang sama. Bagian tulang bernama bulbous, yakni komponen tulang berbentuk seperti busa yang bertanggung jawab untuk menyangga sebagian besar berat badan, kehilangan sepertiga volumenya, lebih tipis 10%, sangat mirip dengan gejala awal osteoporosis. Tidak berhenti di situ saja, tanda-tanda penurunan ketahanan tubuh juga terjadi, hal ini eitandai dengan meningkatnya jumlah sel darah putih, yang biasa sangat terkait dengan stress ataupun sedang dalam kondisi terinfeksi.

Efek-efek di atas inilah yang ditakutkan juga akan memberikan efek yang sama terhadap orang-orang dengan pengalaman yang sama, seperti pada mereka yang bekerja secara shift, atau bahkan pasien rawat inap rumah sakit yang terlalu lama terpapar cahaya lampu. Namun demikian, para peneliti nampaknya yakin bahwa sebagian efek tersebut masih dapat disembuhkan. Merekapun sudah mengetahui apa penyebab utama dari timbulnya efek mengerikan tersebut.

Penurunan kuantitas tulang, menurunnya imunitas, dan beberapa efek lain di atas disinyalir sangat berhubungan dengan gangguan kalkulasi waktu internal dari hewan pengerat tersebut. Pada kondisi normal, ada perbedaan jelas terhadap sinyal yang dikirimkan oleh ‘neuron waktu’ di otak antara siang dan malam. Sedangkan pada saat tikus-tikus tersebut terekspos cahaya konstan, terjadi penurunan kualitas sinyal yang dikirimkan oleh ‘neuron waktu’ otak sebanyak 70%.

Lalu bagaimana cara penyembuhannya? Ternyata hanya diperlukan dua minggu proses recovery untuk mengembalikan kekuatan otot dan tulang hewan-hewan tersebut. Selain itu untuk menghindari efek-efek di atas terjadi pada manusia, diharapkan kita untuk secara periodik berada di dalam keadaan gelap total, terutama di saat kondisi tidur. Sekalipun jika Anda tidak terbiasa tertidur dalam keadaan gelap, Anda masih diharapkan untuk menutup mata Anda menggunakan penutup mata kain yang tak tembus cahaya, mengingat di saat kelopak mata yang tertutup masih ada sebagian cahaya yang masuk mata.

Sekalipun demikian, penelitian lebih lanjut terutama dengan objek manusia masih perlu dilakukan untuk memastikan kesimpulan yang paling valid. Hal tersebut mengingat akan hewan tikus yang memang merupakan hewan nokturnal, alias hewan yang hanya aktif di malam hari saja.

Credit: New Scientist, Environmental 24-hr Cycles Are Essential for Health

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply