Baterai ini Dapat Anda Telan! Memungkinkan Untuk Teknologi Pengobatan Masa Depan!

Bayangkan jika suatu hari nanti di masa depan, ada satu metode diagnosa penyakit maupun pengobatan modern dengan menggunakan sebuah alat elektronik canggih, berukuran kecil skala nano, dapat dikontrol secara nirkabel (remote), tidak beracun, sehingga aman jika penggunaannya harus ditelan oleh pasien. Metode pengobatan semacam ini sudah menjadi impian dokter-dokter di dunia. Hingga sejak sekitar dua puluh tahun yang lalu sudah lahir metode kapsul endoskopi nirkabel, yakni dengan jalan memasukkan sebuah kapsul kamera berbaterai ke dalam tubuh pasien melalui saluran pencernaan atau pernapasan, sehingga dapat dilakukan diagnosa yang jauh lebih presisi daripada metode endoskopi konvensional. Namun metode endoskopi nirkabel tersebut didesain untuk sekali pakai saja, dan harus segera dikeluarkan dari tubuh pasien. Penggunaan alat ini yang terlalu lama ataupun berulang-ulang di dalam tubuh pasien akan meningkatkan resiko keracunan.

Kondisi inilah yang mendorong tim peneliti dari Carnegie Mellon University, Amerika Serikat, untuk mendesain baterai yang terbuat dari bahan aman jika lama berada di dalam tubuh manusia. Penelitian yang dipimpin oleh Christopher Bettinger, Ph.D. ini akhirnya berhasil membuat baterai berbahan dasar pigmen melanin. Melanin secara alami menjadi pigmen pada kulit, rambut, serta mata kita. Pigmen ini berfungsi untuk mennyerap sinar ultraviolet dan menggunakannya untuk melindungi kita dari bahaya radikal bebas. Pigmen melanin juga berperan dalam porses pengikatan dan pemutusan ikatan ion metalik.


Di awal penelitian, para peneliti mencoba untuk menggunakan pigmen melanin baik sebagai kutub positif maupun negatif baterai. Mereka berkali-kali mencoba memasangkan melanin dengan material elektrode lain seperti mangan oksida, sodium titanium fosfat, tembaga, serta besi.

“Kesimpulan kami pada dasarnya bahan ini dapat bekerja (sebagai baterai – red),” kata Hang-Ah Park, Ph.D., salah satu anggita tim peneliti. “Angka paling tepat bergantung kepada konfigurasinya, sebagai contoh saja, kami dapat mentenagai sebuah alat elektronik 5 milliWatt selama 18 jam, menggunakan 600 milligram material melanin aktif sebagai katode baterai.”

Tak hanya menggunakan zat melanin, para peneliti ini juga mengembangkan baterai dengan bahan dasar biomaterial pektin. Pektin adalah sebuah substansi organik yang membentuk suatu zat berwujud kenyal seperti jelly. Bahan pektin digunakan sebagai material pengisi baterai dengan diapit oleh 350 mg magnesium sebagai anoda, serta 15 mg zat besi sebagai katoda. Kedua bahan mineral tersebut digunakan dalam jumlah tertentu yang masih masuk dalam takaran nutrisi harian tubuh manusia. Dengan susunan berlapis semacam ini, para peneliti mengklaim baterai organik tersebut mampu menghasilkan tegangan kerja 0,7 volt, serta mampu menghasilkan arus listrik sebesar 0,1 mA selama tiga hingga empat hari lamanya. Memang daya yang dihasilkan baterai organik ini tidak mampu melampaui kapasitas baterai lithium-ion, namun tetap saja inovasi hebat ini menjadi tonggak sejarah penting bagi kemajuan ilmu kedokteran serta pengobatan modern.

Credit: Popular Science, Eureka Alert

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply