Cahaya dapat didaur ulang? Kenapa tidak?

Lampu pijar yang diteliti sejak awal abad kesembilanbelas, “sedikit” berakhir dengan paten yang diklaim oleh Thomas Alfa Edison tahun 1880 mengenai pengembangan lampu pijar. Lampu pijar menggunakan kawat filamen yang diberi arus listrik hingga panas yang  timbul mengakibatkan berpijarnya kawat. Namun lampu model ini memiliki efisiensi yang rendah, karena sebagian besar energi listrik terkonversikan menjadi panas, atau dapat dikatakan sebagai cahaya dengan intensitas yang tidak dapat ditangkap oleh mata manusia sehingga hanya berakhir menjadi panas. Maka sejak itu perlombaan inovasi lampu melahirkan berbagai macam tipe sumber cahaya yang lebih efisien seperti lampu neon, lampu arc, lampu halogen, hingga yang sedang populer saat ini LED (Light-Emitting Diode). Lampu-lampu tersebut dikembangkan dengan usaaha agar hanya menghasilkan cahaya dengan frekuensi foton yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Sehingga dihasilkan lampu yang lebih efisien dan awet.

 photo US223898-0.png

Lain lagi dengan inovasi yang dilakukan oleh para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini, mereka justru berusaha untuk mengembangkan sebuah alat yang dapat mendaur ulang cahaya. Prinsipnya adalah mereka ingin membuat semacam filter cahaya, sehingga jika ada cahaya dengan frekuensi di luar batas kemampuan mata akan tertata ulang sehingga mata kita dapat menangkap cahaya tersebut.

Untuk diketahui saja, mata kita hanya dapat menangkap cahaya dengan frekuensi di antara 430 hingga 750 Terahertz, atau di antara cahaya inframerah dan ultraviolet. Nah, alat yang dikembangkan oleh para peneliti tersebut berfungsi untuk mengubah cahaya dengan panjang gelombang inframerah, menjadi cahaya yang aman untuk mata. Dengan prinsip demikian, mereka berharap sumber panas apapun yang berpijar dapat “didaur ulang” untuk menjadi sumber cahaya yang bermanfaat.

Konsep dari alat ini adalah dikembangkannya sebuah bahan nanophotonic filter yang berfungsi untuk meneruskan cahaya mampu-lihat (visible), dan memantulkan cahaya inframerah. Bahan nanofilter ini memisahkan cahaya berdasarkan panjang gelombangnya. Sehingga hanya cahaya dengan panjang gelombang tertuntu saja yang bisa melewatinya, sedangkan diluar itu akan terpantul kembali.

160111135030_1_900x600

Komponen lain dari alat ini yakni sebuah kawat filamen, seperti halnya lampu pijar, namun dengan desain khusus. Filamen didesain sedemikian rupa sehingga memiliki luas permukaan yang jauh lebih luas daripada filamen pada lampu pijar konvensional. Desain ini membuat filamen sangat efisien untuk menyerap kembali cahaya yang dipantulkan oleh lapisan nanofilter.

“Adalah kombinasi dari istimewanya sifat-sifat filter serta bentuk khusus dari filamen inilah yang secara substansial mampu mendaur ulang radiasi cahaya yang tidak diinginkan,” demikian ungkap salah seorang peneliti, Marin Soljacic. Bahkan mereka mengklaim efisiensi sistem lampu ini mampu mendekati lampu neon dan LED.

Credit: Science DailyWikipedia: Incandescent light bulbWikipedia: Electric light.

 

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply