Calon vaksin HIV telah ditemukan!

Selama kurang lebih 30 tahun, para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia telah berjuang untuk menemukan vaksin HIV. HIV adalah penyakit yang sampai saat ini belum bisa disembuhkan dan hanya mampu dikontrol dengan obat-obatan ARV (antiretroviral). Obat-obatan ARV hanya mampu untuk menghalangi pembelahan virus sehingga jumlah virus HIV dapat terkontrol dan tidak dapat menyebabkan AIDS. Obat-obatan ARV ini telah merevolusi penanganan HIV dan meningkatkan harapan hidup para penderita HIV dengan sangat signifikan. Sekarang para penderita HIV memiliki harapan hidup yang sama dengan orang yang tidak terjangkit asalkan mengkonsumsi ARV secara teratur. Bagaimanapun obat-obatan ARV ini harus dikonsumsi setiap hari secara teratur dan penggunaan obat-obatan apapun dalam waktu lama akan menimbulkan berbagai efek samping yang tidak diinginkan. Dunia masih membutuhkan apa yang dinamakan obat atau mungkin vaksin HIV yang tidak sekedar mengontrol jumlah virus namun mampu mencegahnya.

Close up of HIV virus in bloodstream

Masih pada tahun 2015 ini, sekelompok ilmuwan dari Scripps Research Institute di Florida, Amerika Serikat, telah mengklaim menemukan vaksin HIV yang dapat diaplikasikan secara universal pada berbagai jenis (strain) penyakit HIV! Secara umum, virus HIV terdiri dari beberapa jenis yang berasal dari 2 tipe dasar; HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing strain memiliki karakteristik yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Nah, vaksin yang dikembangkan oleh para ilmuwan Scripps Research Intitute ini diklaim mampu mencegah jenis apapun dari virus HIV!

 photo 6FB7A72C-E6C0-4272-A676-B2B144C09B5A.gif

Michael Farzan, pemimpin para ilmuwan tersebut, mengatakan bahwa timnya melakukan pendekatan berbeda. Alih-alih membuat antibodi buatan yang tahan terhadap virus HIV, Farzan dan timnya mencoba untuk mengekstrak molekul baru yang bekerja sebagaimana virus HIV bekerja. Untuk diketahui, virus HIV menginfeksi sel darah putih dalam dua tahap; menempelkan protein permukaan virus (gp120) ke permukaan sel darah putih pada reseptor (penerima) pertama sel darah putih, CD4 dan menempelkan permukaan virus pada reseptor kedua, CCR5.

 photo F2A4AC0F-D826-48DB-81FB-C1EAE1875A13.jpg

Farzan dan timnya mengkombinasikan sebagian kecil CD4 dan CCR5 dan menempelkan kedua reseptor itu ke bagian kecil dari sebuah antibodi. Kombinasi antar protein ini dijuluki eCDA-lg dan mampu mengunci dan menetralisir virus HIV walaupun virus itu sudah menempel dan melakukan kontaminasi pada sel. Pada eksperimen, eCDA-lg mampu mengungguli kinerja berbagai antibody alami yang beberapa tahun lalu menunjukkan harapan ketika diujicobakan pada sekelompok monyet. Philip Johnson, seorang dokter anak di Children’s Hospital of Philadelphia, mengatakan bahwa eCDA-lg adalah “harapan yang indah”.

Farzan dan Johnson membentuk sebuah grup yang bekerjasama untuk merekayasa gen eCDA-lg ke dalam virus AAV (adeno-associated virus) yang tidak berbahaya untuk manusia. Virus-virus AAV yang telah direkayasa dengan menggunakan gen eCDA-lg, kemudian disuntikkan ke sekelompok monyet dengan harapan tubuh mereka akan memproduksi eCDA-lg secara alami dalam jumlah yang sangat banyak. Setelah menerima virus AAV rekayasa, monyet-monyet diberi dosis tinggi virus HIV secara berturut-turut hingga selama 34 minggu dan hasilnya seluruh monyet tidak terinfeksi virus HIV atau dengan kata lain, eCDA-lg terbukti sukses dalam mencegah virus HIV untuk menginfeksi sel darah putih monyet! Menurut Farzan, eksperimen pada monyet ini adalah langkah awal dan akan dilanjutkan dengan eksperimen-eksperimen lainnya. Dia merasa optimis bahwa senyawa protein e-CDA-lg yang dikombinasikan dengan virus AAV mampu menjadi pengobatan universal bagi HIV/AIDS di masa depan.

Credit: ScrippsCBS NewsSpiritiaAvert.

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply