Di luar dugaan! Ulat tepung ternyata doyan makan styrofoam!

Sains terkadang memang di luar dugaan siapa saja. Siapa sangka bahan styrofoam yang selama ini kita anggap sebagai sampah yang sulit terurai ternyata dianggap makanan enak oleh ulat tepung. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah tim dari Stanford University berhasil menemukan fakta mengejutkan ini. Di dalam laboratotium, 100 ekor ulat tepung mampu memakan 34 hingga 39 miligram styrofoam per hari. Mereka mengurai separuhnya menjadi karbon dioksida, seperti halnya saat mereka memakan makanan lainnya.

Dalam waktu 24 jam, ulat-ulat tersebut mengekskresikan hasil cernaan bahan styrofoam yang mereka makan menjadi kotoran yang ramah lingkungan. Para peneliti juga berhasil menyimpulkan bahwa bagi ulat tepung, memakan styrofoam sama ‘bergizi’-nya dengan memakan makanan lainnya, sehingga tidak akan mengganggu tubuh mereka.

“Temuan kami membuka cara baru untuk mengatasi permasalahan polusi plastik global,” ungkap Wei Min Wu, salah seorang peneliti senior dari Department of Civil and Environment Engineering, Stanford University.

img_0618

Ulat tepung dianggap sebagai hama bagi petani, namun dianggap pula sebagai makanan bergizi bagi para pecinta hewan peliharaan seperti burung, kura-kura, reptil, anjing, kucing, dan ikan akuarium karena mengandung protein yang cukup tinggi. Tidak disangka bahwa ulat bernama latin Tenebrio molitor ini menjadi alternatif pengurai sampah styrofoam. Tak hanya sampah styrofoam yang mampu diurai uleh ulat tepung, namun sampah-sampah berbahan dasar plastik polystyrene juga mampu mereka urai.

“Selalu ada kemungkinan atas ditemukannya penelitian penting dari tempat-tempat yang aneh,” kata Profesor Craig Criddle, yang menjadi supervisi atas penelitian yang dilakukan oleh tim pimpinan Wu. “Terkadang, sains mengejutan kita. (Hasil penelitian) ini sungguh mengejutkan.”

Beruntung styrofoam sudah semakin disadari oleh banyak orang atas ketidakramahannya terhadap lingkungan karena bahan ini hampir tidak akan pernah terurai secara alami. Atas dasar itulah semakin banyak pihak yang melarang penggunaan bahan ini. Tidak hanya karena sifatnya yang sulit terurai secara alami di alam, namun juga karena ketidakamanannya terhadap kesehatan jika digunakan sebagai bungkus makanan. Namun demikian keberadaan fakta mengenai ulat tepung ini tentu dapat dimanfaatkan berbagai kalangan sebagai solusi mengatasi masalah limbah styrofoam yang sudah terlanjur menggunung.

Di sisi lain, para peneliti dari Stanford University masih terus mengembangkan penelitian ini. Untuk selanjutnya mereka ingin meneliti bagaimana peran ulat tepung ini terhadap sampah plastik yang semakin menumpuk di laut. Selain itu mereka juga masih terus meneliti pengaruh konsumsi bahan styrofoam tersebut terhadap rantai makanan ulat tepung. Mereka masih harus mengetahui bagaimana jika ulat tepung yang seumur hidupnya terus memakan styrofoam, harus menjadi makanan bagi seekor burung kenari peliharaan Anda.

Credit: Popular Science, Stanford University, BBPPTP Ambon

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply