Facebook Sedang Mengembangkan Jaringan Nirkabel Berbasis Gelombang Cahaya

Saat ini layanan jaringan internet nirkabel berkecepatan tinggi kita kenal dengan istilah Long Term Evolution (LTE) atau 4G. Jaringan yang diketemukan oleh putra Indonesia ini mampu menembus kecepatan perpindahan data hingga puluhan Megabit per detik. Namun satu hal yang perlu kita ketahui bersama bahwa selama ini jaringan nirkabel baik 2G, 3G, hingga 4G, masih menggunakan frekuensi radio untuk mentransmisikan data. Belum ada satupun jaringan nirkabel yang berbasis cahaya. Satu-satunya pemindahan data menggunakan teknologi laser hanyalah pada penggunaan jaringan fiber optik.

Sekelompok peneliti dari Connectivity Lab di bawah naungan perusahaan raksasa Facebook, saat ini sedang mengembangkan sebuah terobosan jaringan data nirkabel berbasis cahaya. Bahkan mereka telah mendemonstrasikan konsep baru mereka dalam mendeteksi sinyal komunikasi optikal yang berpindah melewati udara bebas. Menggunakan alat inovasi mereka, tercatat kecepatan data yang berpindah mampu menembus angka 2 Gigabit per detik.

Jika saja benar sebanyak empat miliar orang di bumi ini tidak dapat dijangkau oleh internet karena faktor lokasi yang tidak memungkinkan, maka mungkin inovasi dari Connectivity Lab ini akan dapat menjadi solusi yang tepat. Paling tidak hal inilah yang menjadi motivasi utama para peneliti seperti yang diungkapkan oleh Tobias Tiecke, sang pemimpin para ilmuwan tersebut “Kami mengembangkan teknologi komunikasi yang dioptimalkan untuk area-area dimana orang hidup berjauhan satu sama lain.”

 photo CE3F63B0-0D10-4C2C-BB80-D780ABACEDF8.jpg

Para peneliti dari Facebook mendemonstrasikan sebuah alat bermaterial fluorescent untuk menangkap gelombang cahaya dan mengkonsentrasikannya ke sebuah photodetector kecil. Mereka mengkombinasikan kolektor cahaya tersebut, yang memiliki luas permukaan 126 sentimeter persegi sehingga dapat menangkap cahaya dari berbagai arah, dengan teknologi komunikasi yang ada sehingga dapat mencapai kecepatan transfer data hingga lebih dari 2 Gigabit per detik. Tiecke menjelaskan cara kerja fiber optik fluorescent, yang mampu menyerap hanya satu warna cahaya namun memancarkan warna yang lain. Fiber optik tersebut menangkap cahaya dari segala arah dengan cakupan yang cukup luas, dan memancarkan cahaya kembali di dalam fiber optik itu sendiri, yang kemudian ditangkap oleh sebuah photodetector. Fiber optik ini disebutkan terbuat dari bahan khusus termasuk penggunaan zat pewarna organik yang menyerap cahaya biru dan memancarkan cahaya hijau. Metode ini menggantikan metode klasik dalam menangkap gelombang cahaya menggunakan alat optik biasa.

“Fakta bahwa fiber optik fluorescent memancarkan warna yang berbeda dengan yang diserap, membuatnya dapat meningkatkan kecerahan cahaya yang masuk ke sistem,” demikian tambah Tiecke. Dengan kata lain desain fiber optik dengan warna khusus tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan alat tersebut. Tercatat jarak waktu antara cahaya biru yang terserap dengan cahaya hijau yang dipancarkan yakni hanya dua nano-detik. Dikombinasikan dengan metode sinyal modulasi bernama Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM), para peneliti mampu mencapai kecepatan 2 Gbps meskipun hanya menggunakan lebar pita (bandwidth) 100 MHz. OFDM adalah sebuah metode pengolahan data digital sehingga banyak jalur data dapat ditransmisikan menjadi satu. Sekalipun teknologi ini lazim digunakan pada komunikasi kabel dan nirkabel berbasis frekuensi radio, namun OFDM biasanya tidak cocok digunakan pada komunikasi berbasis cahaya (laser).

Penelitian ini masih terus dikembangkan lebih lanjut terutama mengenai pemilihan spektrum cahaya pada fiber optik fluorescent. Jika saja nantinya menggunakan spektrum cahaya inframerah yang tidak mampu dilihat oleh mata manusia, dan bukan cahaya biru/hijau seperti yang sekarang digunakan, Tiecke memprediksi secara teoritis bahwa alatnya akan mampu mencapai kecepatan transfer data hingga 10 Gigabit per detik.

Credit: Science Daily, Journal PDF

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply