Gadis 25 tahun ini punya solusi atasi obat antibiotik yang berbahaya!

Sejauh ini obat antibiotik memang sangat ampuh mengatasi segala jenis penyakit yang disebabkan oleh organisme berbahaya semacam virus ataupun bakteri. Dari hanya influenza hingga demam berdarah, semua tipe sakit tersebut diketahui sangat ampuh jika diperangi dengan menggunakan antibiotik. Namun satu hal yang patut kita sadari bersama adalah bahwa penggunaan antibiotik yang sudah beberapa dekade terakhir tak pernah tergantikan, menyimpan efek yang justru mengerikan! Keampuhan antibiotik justru seakan-akan ‘melatih’ para sumber penyakit menjadi semakin kuat dan kebal atas antibiotik itu sendiri. Fenomena inilah yang selanjutnya memunculkan istilah superbug atau bakteri yang resistif terhadap antibiotik.

Sebuah penelitian pada tahun 2014 di Inggris telah mengidentifikasi bahwa keberadaan superbug telah membunuh setidaknya 700.000 jiwa per tahun di seluruh dunia. Jumlah yang cukup besar hingga membuat organisasi dunia PBB tidak mau tinggal diam. Dalam sebuah sidang PBB yang diadakan pada 21 September lalu, para perwakilan negara-negara anggota sepakat untuk menganggap bahwa superbug adalah sebuah ancaman dunia. Mereka juga sepakat agar perlu segera ditemukan solusi praktis untuk menggantikan antibiotik.

Namun nampaknya PBB tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat menemukan solusi pengganti antibiotik. Seorang mahasiswi PhD University of Melbourne, menemukan sebuah cara untuk mengatasi superbug. Gadis 25 tahun ini mengembangkan sebuah polimer berstruktur bintang yang mampu membunuh enam jenis superbug tanpa bantuan antibiotik.

“Kami menemukan mereka [polimer] secara aktual menyerang bakteri dan membunuhnya melalui berbagai cara,” ungkap Shu Lam, sang mahasiswi, dikutip dari Telegraph. “Salah satu metode adalah dengan secara fisik mengacau dan merusak dinding sel bakteri. Hal ini mengakibatkan bakteri tersebut stress dan membuatnya bunuh diri.”

image

Sekalipun penelitian ini baru sebatas dilakukan di dalam laboratorium serta satu kali terhadap superbug yang hidup di dalam seekor tikus, namun metode ini diyakini akan mengubah wajah pengobatan modern dunia. Obat masa depan ini diberi nama SNAPPs oleh Lam, yang merupakan singkatan dari Structurally Nanoengineered Antimicrobial Peptide Polymers. Tidak seperti antibiotik yang bekerja dengan jalan ‘meracuni’ bakteri sumber penyakit, obat ini bekerja dengan jalan menyerang, menembus, dan mengganggu kestabilan membran sel bakteri.

 photo D59D6A4E-1C2D-471F-8D50-38BFE78B807E.jpg
Polimer (warna hijau) sedang menyerang sebuah bakteri (warna merah)

Penelitian yang dilakukan oleh Lam memang cenderung berbeda dengan kebanyakan ilmuwan lain yang justru ingin menemukan jenis antibiotik baru yang lebih efisien membunuh bakteri. Namun tentu inovasi ini dapat membuka mata dunia bahwa akhir dunia antibiotik akan segera hadir.

“Saya ingin terlibat dengan sejenis penelitian yang dapat memecahkan permasalahan [antibiotik resistensi]. Saya harap polimer yang berusaha kami kembangkan ini suatu saat dapat menjadi solusi,” demikian harapan kecil dari Lam.

Credit: Science Alert, Telegraph

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply