Ilmuwan Indonesia: 98,9% pasien Covid-19 di Indonesia yang kekurangan vitamin D, meninggal dunia!

Sebuah tim ilmuwan dari RSUD Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, menyatakan bahwa pasien Covid-19 di Indonesia yang kekurangan vitamin D, memiliki risiko meninggal dunia 10,12 kali lebih besar daripada pasien dengan vitamin D tercukupi. Selain itu, penelitian ini juga menyebutkan bahwa pasien laki-laki 5,73 kali lebih berisiko meninggal daripada pasien wanita. Penelitian ini sudah dipublikasikan melalui jurnal ilmiah pada 30 April 2020 lalu.

Penelitian yang dipimpin oleh Prabowo Raharusuna ini mengambil data dari 780 pasien kasus positif SARS-CoV-2 dari seluruh Indonesia, sejak kasus pertama pada tanggal 2 Maret 2020 hingga 24 April 2020. Kemudian pasien-pasien tersebut dikelompokan menjadi tiga berdasarkan tingkat kecukupan nutrisi vitamin D mereka, menggunakan kadar level serum 25(OH)D di dalam tubuh. Pasien dikatakan memiliki kandungan nutrisi vitamin D normal jika kandungan serum 25(OH)D lebih dari 30 ng/ml; cukup jika serum 25(OH)D 21-29 ng/ml; dan dikatakan kurang jika kandungan serum 25(OH)D di dalam tubuh kurang dari 20 ng/ml.

Mengapa vitamin D?

Berbagai literatur menyebutkan bahwa vitamin D terbukti menjadi cerminan adanya gen anti-oksidan tubuh. Selain itu, vitamin D juga berperan penting terhadap kemampuan imun tubuh beradaptasi, serta memperbaiki imunitas di tingkatan sel.

Pada penelitian lain yang dilakukan di kawasan Asia Tenggara, menyebutkan bahwa ada keterkaitan ketat antara vitamin D dengan gejala Covid-19. Dijelaskan bahwa pada kasus-kasus kritis Covid-19, level serum 25(OH)D dalam tubuh rendah. Sedangkan untuk kasus-kasus Covid-19 dengan gejala medium dan ringan, level serum 25(OH)D di dalam tubuh pasien cenderung tercukupi.

Melalui penelitian yang dilakukan oleh tim Prabowo Raharusuna, mereka berusaha membuktikan keterkaitan tersebut di pasien positif Covid-19 di Indonesia. Menggunakan metode analisis statistik dari data-data yang ada, merekapun menarik beberapa kesimpulan penting:

  • 98,9% pasien Covid-19 dengan status kekurangan vitamin D di Indonesia, meninggal dunia. Pasien dengan serum 25(OH)D sedang atau cukup, 73,8% di antaranya meninggal dunia. Sedangkan pasien dengan level serum 25(OH)D normal, hanya 4,1% di antaranya yang meninggal dunia.
  • Kemungkinan kematian pada pasien laki-laki dan usia di atas 50 tahun, lebih tinggi daripada pasien wanita. Sebanyak 58,8% pasien berusia di atas 50 tahun, dan mayoritas  sebanyak 66,6% di antaranya meninggal akibat Covid-19.
  • Dengan mengendalikan variabel usia, jenis kelamin, dan komorbiditas, status Vitamin D sangat terkait dengan kematian COVID-19.
Hubungan Vitamin D dengan Kasus kematian Covid-19 di Indonesia
Hubungan Vitamin D dengan Kasus kematian Covid-19 di Indonesia

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Mungkin ada di pasaran yang dijual menawarkan nutrisi vitamin D. Namun kita harus ingat bahwa kita hidup di negara tropis dengan sumber tak terbatas Pro-Vitamin D dari sinar matahari. Itulah mengapa sedari awal kasus Covid-19 muncul di Indonesia, tips untuk berjemur di bawah sinar matahari sering kita dengar. Seperti yang kita tahu bahwa pro-vitamin D yang ditangkap oleh kulit tubuh kita akan secara alami diubah menjadi vitamin D.

Mari bersama kita jaga kesehatan, dan menang melawan pandemi ini.

Credit: SSRN Papers

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply