Ini lho penyebab sebenarnya alergi pada balita!

Apakah kamu semasa balita punya alergi terhadap makanan tertentu? Jika iya, maka sel darahmu ketika itu memiliki jumlah sel T kurang dari yang seharusnya. Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan di Amerika Serikat membuktikan hipotesa ini. Para peneliti yang dipimpin oleh Yuxia Zhang, seorang imunologi dari Water and Eliza Hall Institute telah mengadakan penelitian dengan mengambil banyak sampel darah bayi dari tali pusar, tidak kurang dari 1000 sampel. Dengan menggunakan begitu banyak sampel darah bayi tersebut, para ilmuwan mencoba untuk memetakan apa yang selama ini menjadi penyebab utama gangguan alergi pada anak-anak. Para ilmuwan menemukan bahwa darah yang dimiliki anak-anak dengan alergi ternyata tidak memiliki jumlah sel T dalam jumlah yang seharusnya.

sn-foodallergy [82945]

Para ilmuwan juga menemukan bahwa pada para balita dengan alergi makanan, darah mereka memiliki kandungan monosit di atas normal. Monosit adalah sejenis atau lebih tepatnya sekelompok sel darah putih yang bertanggung jawab terhadap sistem kekebalan tubuh. Ketika manusia sakit, maka sel-sel monosit akan berubah menjadi sel-sel makrofag yang akan bertempur melawan penyakit. Apa itu makrofag? Makrofag adalah sejenis sel darah putih juga namun sel ini adalah sel yang terlibat langsung dalam pembersihan partikel-partikel mikroskopis yang tidak diinginkan seperti bakteri dan sel-sel mati.

Nah kelebihan monosit akan mendorong reaktifnya tubuh untuk melawan molekul bakteri. Jadi jika pada anak-anak normal masuknya beberapa bakteri “tidak terlalu diperangi”, namun pada anak-anak dengan kandungan monosit berlebih, segala bentuk bakteri dan partikel mikroskopis lainnya akan direaksi secara berlebihan oleh monosit.

Hubungannya dengan sel T

Berbagai studi terkait sebelumnya tidak pernah menghubungkan antara sel monosit dengan alergi sehingga para ilmuwan beralih pada sel-sel lain yang berkaitan dengan imunitas. Para ilmuwan menemukan bahwa sinyal-sinyal kimia yang dipancarkan oleh sel-sel monosit yang dimiliki balita dengan alergi, mengubah reaksi sel T dari yang seharusnya meminimalisir reaksi-reaksi alergi menjadi mendorong reaksi-reaksi alergi. Perubahan fungsi sel T ini dimungkinkan karena sel-sel T telah dikonversi menjadi sel T helper. Hmmm apalagi ini sel T helper? Sel T helper adalah jenis sel T yang berfungsi untuk memerangi gangguan virus, bakteri, dan berbagai partikel mikroskopis. Fungsinya mirip dengan sel mitosis sehingga wajar jika semakin banyak sel T helper dalam tubuh balita, maka semakin reaktif balita tersebut terhadap makanan-makanan tertentu.

Nah, sekarang jelas bukan hubungan antara berlebihnya kandungan sel monosit dengan kurangnya sel T? Dengan studi ini kita dapat mengetahui penyebab sebenarnya dari alergi kronis pada balita. Para ilmuwan berpendapat bahwa dengan memodifikasi menu ibu selama mengandung dapat mencegah kandungan monosit berlebih pada bayi.

Credit: ScienceMagWikipedia: Monositsridianti.comIndonesia Transfer Factor.

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply