Inovasi dari General Electric: Turbin Mini Berfluida Karbon Dioksida

Sebuah inovasi cukup revolusioner dilakukan oleh perusahaan listrik raksasa General Electric atau dikenal dengan GE. GE saat ini sedang melakukan penelitian untuk membangun sebuah pembangkit listrik mini yang hanya seukuran meja kerja, namun mampu menghidupi setidaknya 10.000 rumah tangga. Turbin mini ini disebutkan hanya berukuran sepuluh kali lebih kecil daripada turbin uap dengan kemampuan output energi yang sama.

Satu hal yang unik dari turbin ini adalah fluida penggeraknya yang tidak lazim. Bukan uap air, bukan angin, dan bukan pula air! Turbin ini menggunakan fluida karbon dioksida sebagai media transfer energinya. Karbon dioksida tersebut dipanaskan hingga 700°C pada tekanan sangat tinggi hingga supercritical sebelum masuk ke turbin. Karbon dioksida yang keluar dari turbin didinginkan dan dinaikkan kembali tekanannya sebelum kembali melewati siklus yang sama.

 photo 22F03407-F370-41FF-8B9A-63A306620B93.jpg

Teknologi penggunaan karbon dioksida menjadi kunci berbagai keunggulan dari turbin ini. Keunggulan pertama adalah ukurannya yang sangat kecil, mengalahkan ukuran turbin uap hingga sepuluh kali lebih kecil. Dari keunggulan ini saja sudah menghantarkan turbin tersebut ke keunggulan selanjutnya yakni proses penyalaan awal yang jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan turbin uap. Turbin CO2 hanya membutuhkan waktu satu hingga dua menit untuk sampai di kecepatan putar penuh, bandingkan dengan turbin uap yang membutuhkan waktu hingga setengah jam untuk menyalakannya. Pada sisi efisiensi, turbin jenis baru ini mampu mencapai efisiensi termal hingga 50%, yang tentu cukup jauh meninggalkan efisiensi turbin uap yang hanya sanggup mencapai 45% saja.

image

Untuk saat ini, penelitian yang dipimpin oleh Doug Hofer ini masih membangun turbin CO2 skala kecil yang mampu membangkitkan daya hingga 10 Megawatt. Namun rencananya akan dibangun turbin dengan daya yang mencapai 33 Megawatt, daya yang sangat cukup untuk menghidupi sekitar 10.000 rumah tangga atau bisa dibilang setara dengan sebuah kota cukup besar. Doug Hofer juga menjelaskan bahwa sumber energi panas utama yang akan digunakan nantinya adalah panas matahari, nuklir atau juga pembakaran. Teknologi penyimpanan panas menggunakan garam cair juga akan digunakan sehingga panas dari sumber dapat disimpan untuk digunakan di masa yang sulit sumber panas seperti pada musim dingin.

Credit: MIT Technology Review, Ewao.

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply