Inovasi Perangkat Mikrofluida untuk Mempercepat Proses Pengambilan DNA

Pada sebuah proses rekayasa genetika, peneliti seringkali menggunakan satu metode yang disebut dengan elektroporasi saat ingin mengambil contoh DNA makhluk hidup. Proses elektroporasi adalah proses dimana peneliti memberikan medan listrik pada sel. Jika besar medan listrik yang digunakan tepat, hal itu akan membuka pori-pori sel secara temporer dan membuat DNA mengalir keluar. Namun untuk menemukan kondisi medan listrik yang tepat sehingga pori-pori dapat terbuka, peneliti membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa peneliti dari MIT telah berhasil mengembangkan perangkat mikrofluida baru yang memungkinkan bagi banyak peneliti agar lebih cepat menemukan medan listrik yang tepat untuk membuka pori-pori sel. Perangkat tersebut memungkinkan peneliti untuk mengetahui kisaran medan listrik yang aman sehingga dapat secara temporer membuka pori-pori sel. Selain itu perangkat ini dapat digunakan pada berbagai mikroorganisme atau sel.

Harold E.Edgerton yang merupakan seorang professor teknik mesin di MIT beserta timnya mengatakan bahwa mereka menciptakan alat ini dengan tujuan untuk mengurangi jumlah eksperimen yang dibutuhkan untuk mengambil sampel DNA pada mikroorganisme maupun sel. Visi besar mereka terhadap perangkat yang mereka temukan ini adalah agar dapat mempersingkat proses pembukaan pori-pori sel yang biasanya membutuhkan waktu setidaknya berbulan-bulan, sehingga dapat dilakukan hanya dengan satu maupun dua hari. Mereka juga menjelaskan alasan mengapa para peneliti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuka pori-pori mikroorganisme maupun sel. Mereka menyebutkan bahwa setiap makhluk hidup membutuhkan besar medan listrik yang berbeda-beda untuk membuka sel masing-masing.

image

Kenyataan membuktikan bahwa ada begitu banyak keanekaan hayati yang masih belum dapat diakses DNA mereka oleh para peneliti. Hal yang paling susah dalam kasus ini adalah saat para peneliti menggunakan elektroporasi untuk membuka sel bakteri, mereka harus dapat menemukan kuat medan listrik yang tepat sehingga dapat membuka sel secara temporer. Jika medan listrik yang digunakan terlalu kuat, hal itu dapat menyebabkan sel terbuka secara permanen dan membuat sel tersebut mati. Peneliti mengibaratkan membuka sel secara temporer itu mirip dengan proses operasi. Saat peneliti menemukan medan listrik yang tepat berarti mereka dapat mengambil DNA dari sel mikroorganisme maupun bakteri tersebut secara aman, sehingga sel mereka dapat menutup kembali dengan sendirinya, serta bahkan dapat hidup normal dan kembali berkembang biak seperti sedia kala.

Credit: News MIT, Microbiology Online, Amazine

Post Author: Novia Fitriana

Science is my passion...

Leave a Reply