Kismis ternyata dapat digunakan untuk memprediksi kemampuan akademis masa depan anak!

Apakah Anda dapat memprediksi kemampuan akademis anak Anda di usia 8 tahun? Usia 8 tahun merupakan usia dimana kita dapat memastikan daya intelejensi seseorang. Anda tidak perlu khawatir karena menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Warwick, kismis dapat digunakan untuk memprediksi kemampuan akademis seorang balita ketika usianya menginjak 8 tahun kelak.

Anda hanya perlu menyiapkan beberapa buah kismis kering dan cangkir plastik. Kismis dan cangkir plastik digunakan untuk  melakukan tes sederhana, yang sebaiknya dilakukan pada balita berumur 20 bulan. Tes dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan menaruh buah kismis dalam cangkir plastik yang mudah dijangkau. Anda perlu memberi kesempatan pada balita Anda untuk berlatih mengambil kismis hingga tiga kali sebelum Anda meminta mereka untuk menunggu kurang lebih 60 detik sebelum mereka bisa menyentuh dan memakan buah kismis.

Raisin-test-can-forecast-toddlers-academic-ability [35051]

Pengamatan yang dilakukan menemukan bahwa balita-balita yang lahir prematur hampir pasti mengambil kismis sebelum waktu yang ditentukan. Dalam studi berkaitan, para akademisi menemukan bahwa balita-balita yang tidak bisa mengontrol perilakunya cenderung kurang memiliki kemampuan akademis ketika mereka telah berusia 8 tahun. Profesor Dieter Wolke, pemimpin studi, mengatakan bahwa tes sederhana ini cukup akurat dan sangat berguna sebagai “alarm awal” bagi kita sebagai orang tua untuk mengambil langkah-langkah inovatif bagi anak kita sekiranya mereka tidak mampu mengontrol perilaku mereka dalam masa balita.

Studi ini diterbitkan dalam edisi November dari The Journal of Pediatrics. Studi ini dilakukan sejak tahun 1985 atau 30 tahun yang lalu dan masih berlangsung. Studi panjang ini membandingkan usia kelahiran yang dibagi dalam 2 kelompok besar; prematur dan tidak. Studi ini menyimpulkan bahwa semakin rendah usia kelahiran, maka semakin besar kemungkinan balita untuk mengalami masalah akademis di usianya yang ke-delapan. Masalah akademis yang dimaksud meliputi matematika, membaca, dan menulis. Menurut Julia Jaekel, salah seorang anggota tim peneliti, studi ini mampu membantu memecahkan masalah kognitif awal pada balita dengan tujuan meminimalisir kemunduran akademis di tahun-tahun mendatang hidup mereka.

Credit: Science Daily.

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply