OSIRIS-REx: sebuah misi mempelajari asal-usul dunia dari asteroid yang akan menabrak Bumi!

Pada tanggal 11 September 1999 para ilmuwan dari LINEAR Project, sebuah tim peneliti gabungan antara Angkatan Udara Amerika Serikat, NASA, dan laboratorium Lincoln dari MIT, menemukan sebuah asteroid yang berpotensi untuk menabrak Bumi. Asteroid ini memiliki diameter 492 meter atau hampir setengah kilometer, serta memiliki perkiraan massa antara 60 hingga 78 miliar kilogram. Asteroid ini memiliki rasio probabilitas untuk menabrak Bumi sebesar 1 banding 2700 pada tahun 2135 saat ia melintasi Bumi dengan jarak sekitar 300.000 kilometer. Sekalipun memiliki kemungkinan yang nampaknya kecil, namun asteroid ini telah dimasukkan ke dalam peringkat tertinggi kedua oleh para peneliti sesuai dengan perhitungan algoritma Palermo Technical Impact Hazard Scale, sebuah skala algoritma yang lazim digunakan para astronom untuk memberi peringkat kepada setiap objek antariksa yang akan melintas mendekati Bumi.

Asteroid raksasa yang diberi nama 101955 Bennu ini merupakan asteroid berjenis carbonaceous atau biasa pula dikenal dengan asteroid tipe-C. Asteroid tipe C menjadi tipe yang paling dominan dari sekian banyaknya asteroid yang berhasil ditemukan oleh para astronom. Atom karbon menjadi atom utama penyusun Bennu karena asteroid ini berasal dari sebuah bintang mati semacam bintang merah atau supernova. Diperkirakan asteroid ini terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Komponen penyusunnya yang mirip dengan komponen utama kehidupan di bumi yakni karbon, membuat para peneliti ingin mengetahui keberadaan material karbon sebagai penanda kehidupan seperti molekul volatil, senyawa organik, maupun asam amino.

image
Ilustrasi Pertemuan OSIRIS-REx dengan 101955 Bennu

Adalah OSIRIS-REx (Origins, Spectral Interpretation, Resource Identification, Security, Regolith Explorer), sebuah misi antariksa untuk mengambil sampel material dari sebuah asteroid. Sejalan dengan pengiriman New Horison ke Pluto, maupun Juno ke Jupiter, misi ini bertujuan utama untuk mempelajari lebih dekat benda-benda antariksa. Bukan tanpa kesengajaan, melalui berbagai pertimbangan yang matang, dari 500.000 lebih kandidat asteroid dipilihlah 101955 Bennu sebagai objek penelitian OSIRIS-REx. Satu alasan utama dipilihnya asteroid yang kemungkinan akan menabrak Bumi ini adalah rendahnya kebutuhan v untuk dapat mencapai Bennu. (baca: delta-ve) adalah sebuah besaran penunjukkan kebutuhan impuls untuk melakukan manuver seperti peluncuran, pendaratan, maupun manuver orbit dari sebuah kendaraan antariksa terhadap sebuah benda ruang angkasa seperti planet, ataupun bulan. Satu faktor pendukung lain adalah ukuran diameter Bennu yang lebih dari 200 meter, sebab sebuah asteroid berukuran kurang dari angka tersebut sangat tidak stabil, berputar tak terkendali, dan membuat OSIRIS-REx akan kesulitan untuk mendekatinya.

OSIRIS-REx telah berhasil diluncurkan ke ruang angkasa menggunakan roket Atlas V pada 8 September 2016 lalu. Proyek yang menelan biaya super mahal dengan total mencapai 983,5 Juta Dollar US atau sekitar 13.000 Triliun Rupiah ini, akan menjalankan misi jangka panjang dengan skema sebagai berikut:

8 September 2016: Peluncuran dari Tanjung Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Agustus-Oktober 2018: Penyalaan kamera untuk mencari lokasi Bennu yang diperkirakan masih sejauh 1,3 juta mil. Kamera juga akan mengidentifikasi bentuk Bennu, kecepatan putaran, sera kemungkinan adanya bulan asteroid.

Desember 2018: Mendekati Bennu dengan jarak hanya beberapa kilometer. Pada jarak ini juga akan dilakukan identifikasi asteroid secara lebih rinci.

Juli 2020: Tangan robot OSIRIS-REx mendekati permukaan asteroid untuk mengambil sampel material sebanyak 60 gram.

Maret 2021: OSIRIS-Rex meninggalkan Bennu dengan membawa sampel material.

September 2023: Robot antariksa OSIRIS-REx menjatuhkan kapsul berisi sampel material Bennu ke Bumi dengan bantuan parasut. OSIRIS-REx pensiun dan mengorbit permanen terhadap Bumi.

Proyek antariksa yang melibatkan para ilmuwan dari Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Jerman, Inggris, serta Italia ini mendesain OSIRIS-REx bukan untuk mendarat di 101955 Bennu. Mereka mendesain OSIRIS-REx untuk memiliki sebuah lengan robot yang dapat merentang sepanjang 3,35 meter. Ujung lengan robot yang diberi nama TAGSAM (Touch-And-Go Sample Acquisition Mechanism) ini dilengkapi dengan alat pengambil sampel berpendorong jet nitrogen di ujungnya. Nitrogen akan mendorong sampel masuk ke dalam kapsul. Kapsul dapat minyimpan hingga tiga bagian terpisah dengan total berat hingga 60 gram.

 photo 5E64CFF3-B05A-4572-A6F3-EE6143CADE89.jpg
Ilustrasi Pengambilan Sampel

Sampel yang telah diambil oleh OSIRIS-REx tersebut diharapkan dapat menjadi petunjuk bagaimana sistem tata surya kita yang kompleks ini dapat terbentuk. Seperti halnya ditemukannya molekul organik seperti asam amino pada sampel meteorit dan komet, hal ini menunjukkan bahwa beberapa komponen kehidupan dapat tersintesa secara alami di ruang angkasa. Asteroid-asteroid termasuk 101955 Bennu yang disebut-sebut sebagai “mesin waktu” sistem tata surya kita, diharapkan dapat menjadi petunjuk lebih lanjut atas hal ini.

Credit: Wikipedia: OSIRIS-RExWikipedia: 101955 BennuPopular Science

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply