Peneliti Berhasil Mengembangkan Sebuah Topi Yang Mampu Membaca Pikiran Pasien Pengguna Exoskeleton

Gabungan ilmuwan dari Korea University dan TU Berlin, Jerman telah mengembangkan sebuah brain-computer untuk penderita gangguan saraf (yang menyebabkan sulit bergerak), yang jika dipadukan dengan sebuah sistem exoskeleton buatan akan memudahkan pasien untuk mengontrol exoskeleton tersebut dengan hanya memikirkan gerakan apa yang pasien inginkan. Alat ini disebut sebagai topi electroencephalogram. Disebut topi karena alat ini berbentuk topi sehingga mudah dipasang di kepala manusia, sedangkan electroencephalogram (EEG) adalah segala hal yang berhubungan dengan sinyal listrik yang dihasilkan otak.
 photo IMG_2222.jpg

Fungsi dari topi EEG ini adalah untuk MEMBACA dan MEMILAH sinyal listrik dengan frekuensi tertentu yang dihasilkan oleh otak. Pada percobaan yang dilakukan pengguna topi EEG diminta untuk melihat lima lampu LED yang berbeda dari kejauhan. Lima lampu LED tersebut berkerlip berdasarkan pada suatu frekuensi tertentu. Fungsi kelima lampu LED tadi adalah untuk merangsang otak agar mengeluarkan sinyal listrik dengan frekuensi tertentu pula.

Pada dasarnya, ketika pengguna topi EEG memfokuskan diri pada salah satu lampu, otak mereka akan mengeluarkan sinyal listrik yang memiliki frekuensi tertentu. Sinyal yang dihasilkan ini akan dibaca oleh topi EEG, diidentifikasi dan digunakan untuk mengontrol exoskeleton. Bagi para pembaca yang belum mengerti, exoskeleton adalah kerangka eksternal yang biasanya dimiliki oleh moluska semacam bekicot. Nah, pada penderita kelumpuhan, exoskeleton yang digunakan tentu adalah exoskeleton artificial atau buatan.
image
Seperti telah disebutkan di atas, exoskeleton atau kerangka buatan ini dikendalikan oleh sinyal-sinyal yang dibaca oleh topi EEG. Setiap sinyal listrik yang dihasilkan mempunyai fungsi berbeda dalam pengaruhnya terhadap exoskeleton, misal menggerakkan exoskeleton maju, mundur, ke belakang, ke samping, dan lain sebagainya. Alur proses yang dapat disimpulkan adalah:

  1. Pengguna topi EEG melihat lampu-lampu LED yang disediakan
  2. Otak mereka akan mengeluarkan sinyal listrik dengan frekuensi tertentu tergantung dari lampu yang dilihat.
  3. Sinyal listrik dengan frekuensi tertentu tadi akan dibaca oleh topi EEG
  4. Hasil pembacaan tersebut akan diwujudkan dalam suatu motion atau gerakan dari exoskeleton.

Perkembangan alat ini cukup menggembirakan dan para peneliti sedang berusaha untuk meminimalisir kelelahan visual yang diakibatkan oleh fokus mata pada lampu yang berkerlip-kerlip. Menurut Klaus Muller, salah seorang peneliti, sistem yang telah dirancang sejauh ini mampu untuk menyaring berbagai sinyal listrik yang dihasilkan otak sehingga yang tersisa hanyalah sinyal listrik dengan frekuensi tertentu yang berguna untuk menggerakkan exoskeleton.
 photo IMG_2220.jpg

Kombinasi antara topi EEG dan exoskeleton ini akan membantu banyak penderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit gangguan fungsi motorik. Alat ini juga bisa membantu banyak orang yang menderita kelumpuhan akibat kecelakaan. Tentunya alat ini akan memberi secercah harapan bagi mereka untuk dapat beraktifitas normal seperti manusia lainnya. Semoga!

Credit: IOP Publishing, PCPlus.

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply