Perahu Listrik Untan, Upaya Universitas Tanjungpura Pontianak Mengatasi Krisis Energi

Guru Besar Fakultas Teknik Univesitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof.Dr.M Ismail Yusuf, melakukan uji coba perahu listrik yang diberi nama “Perahu Listrik Untan” (PLU) di Sungai Kapuas, Pontianak, Rabu (3/8) sore.
Profesor di Jurusan Teknik Elektro itu menciptakan sebuah perahu bertenaga surya. Perahu tersebut digerakkan dengan tenaga surya yang diserap melalui panel sehingga bisa menghasilkan tenaga listrik. Guna megetahui sejauh mana perahu tersebut dapat berlayar, Profesor Ismail pun melakukan uji coba perahu listriknya di Sungai Kapuas, Pontianak, Kalimatan Barat. Saat diuji coba, perahu tersebut dapat mengarungi Sungai Kapuas selama 45 menit.

Pembuatan perahu bertenaga surya tersebut cukup sederhana, hanya perlu membeli panel surya saja. Perahu tersebut juga tidak menimbulkan bunyi berisik dari mesin yang dirakitya sendiri. Panel surya yang digunakan pada perahu tersebut berspesifikasi 100 watt peak. Sementara untuk akinya berkekuatan 12 volt 100 ampere hour. Jika aki tersebut diisi penuh, maka perahu bisa berlayar selama satu jam penuh.

Ismail menjelaskan bahwa secara elektrik, bidang elektro sudah 100 persen siap. Hanya pengaturan posisi kemudi saja yang perlu disesuaikan agar tidak pegal ketika mengoprasikannya. Perahu Listrik Untan tersebut menggunakan tenaga surya yang diserap melalu panel panel sehingga menciptakan tenaga listrik. Panel tersebut mengubah energi cahaya menjadi energi listrik Direct Current (DC) yang disimpan di aki. Listrik dari aki itulah yang digunakan untuk menggerakkan mesin searah berkekuatan 0,5 Paarden Kracht (PK).


Dengan investasi 10 juta rupiah dengan masa ekonomis lima sampai 10 tahun, panel surya yang digunakan Perahu Listrik Untan berspesifikasi 100 Watt Peak (WP), sementara aki berspesifikasi 12 Volt 100 ampere hour. Jika aki terisi penuh, perahu listrik tersebut bisa digunakan selama satu jam, sedangkan untuk pengecasan aki menggunakan cahaya matahari, cukup membutuhkan waktu selama empat jam.

Ia mengatakan diciptakannya perahu listrik Untan tersebut sebagai salah satu bentuk upaya dalam melakukan penghematan bahan bakar yang selama ini gencar disosialisasikan oleh pemerintah. Di Kalimantan Barat khususnya, yang paling cocok untuk mewujudkan keinginan pemerintah tersebut adalah dengan menciptakan perahu bertenaga listrik.

“Sangat baik sekali jika PLU tersebut dikembangkan, terlebih lagi pada daerah pedalaman. kalau untuk kondisi di Kalbar yang kita perlukan itu sebenarnya perahu listrik, nah itulah yang melatar belakangi saya berfikir untuk menciptakan ini,” jelas Profesor Ismail. Ia membeberkan dalam pembuatan PLU tersebut dirinya ditemani oleh dua mahasiswa jurusan teknik elektro dari program S1 dan S2. Joko mahasiswa S1 bertugas pada bidang mesin, dan mahasiswa S2 Ardi ditugaskan sebagai penganalisa dari segi ekonomisnya.

“Kalau Pemerintah merasa perlu, tentu bisa, kalau produksi massal kan semakin murah,” tambahnya saat ditanya apakah perahu ini akan diproduksi massal. Dirinya berharap ke depan PLU tersebut bisa bermanfaat terutama di daerah pedalaman Kalimantan Barat.

“Kalau menggunakan ini tidak lagi tergantung pada BBM, hanya menggunakan sinar matahari, maka akan bebas biaya,” pungkasnya.

“Sinyal matahari ditangkap panel untuk mengubah energi cahaya, bukan panas menjadi listrik. Panel mengubah cahaya menjadi listrik DC yang disimpan di aki. Energi itu yang menggerakkan mesin,” kata Ismail menjelaskan cara kerja perahu listriknya. “Untuk pemakaian normal, bisa sampai satu jam dan dan baterai tidak akan habis, akan terus terisi.”

Credit: The Tanjungpura Times, Okezone, Pontianak Post

Post Author: Vivi Alhambra

Leave a Reply