Robot ini dibuat karena terinspirasi dari gerak tanaman akibat adanya perubahan kelembaban!

Selama ini pengembangan robot selalu terinspirasi oleh gerakan hewan dan bukan tanaman. Hal ini dikarenakan gerakan tanaman begitu lambat sehingga sulit dideteksi dengan mata telanjang. Mekanisme gerak tanaman sangat sederhana jika dibandingkan dengan hewan (yang bergerak dengan menggunakan otot). Untuk bergerak, beberapa tanaman seperti mimosa dan pohon cemara memanfaatkan persediaan air dalam jaringannya.

Namun bagi beberapa ilmuwan dari Seoul National University, dunia robotika perlu belajar lebih banyak dari tanaman. Mereka berhasil membuktikan bahwa dengan mempelajari tanaman, mereka dapat membuat robot kecil yang bergerak akibat adanya perubahan kelembaban. Kesederhanaan gerak tanaman yang didasari oleh perubahan kelembaban lingkungan adalah kunci dari gerakan tanaman.

3-bioinspiredr [17804]

Menurut Ho-Young Kim, seorang profesor di Department of Mechanical and Aerospace Engineering at Seoul National University, beberapa benih tanaman terdiri dari “kepala” yang mengandung berbagai informasi genetik dan semacam “embel panjang” yang disebut “awn”. Sebuah awn terdiri dari dua lapisan jaringan; satu bagian sangat sensitif terhadap kelembaban dan bagian lain yang tidak sensitif terhadap kelembaban.

Para ilmuwan menemukan bahwa perubahan kelembaban lingkungan dapat dikonversikan ke suatu kerja mekanik. Hal ini didasari atas fakta bahwa kenaikan kelembaban lingkungan menyebabkan bilayer membengkak. Apa itu bilayer? Definisi bilayer adalah lapisan ganda, biasanya dikaitkan dengan fosfolipid bilayer, senyawa alami dalam sel yang terdiri dari asam lemak dan alkohol. Singkatnya perubahan kelembaban akan menyebabkan perubahan ukuran bilayer dan hal ini berarti “gerak” dari tanaman!

 photo 151122133139_1_540x360 17803.jpg

Profesor Kim menyatakan bahwa timnya meniru struktur bilayer untuk membuat sebuah aktuator yang dapat bergerak dengan menggunakan perubahan kelembaban lingkungan. Tanaman bergerak sangat lambat bahkan satu siklus kelenturan dan kekakuan dapat memakan waktu 1 hari. Untuk meningkatkan kecepatan respon bilayer buatan, para ilmuwan mengembangkan cara untuk memperluas permukaan serap aktif (yang sangat reaktif terhadap perubahan kelembaban lingkungan) dengan cara menanamkan serat nano aktif ke lapisan bilayer buatan yang tidak reaktif terhadap perubahan kelembaban lingkungan.

Gerak siklik (lentur dan kaku) tanaman akan diubah menjadi gerak mekanis yang memungkinkan robot bergerak. Pergerakan robot yang dipengaruhi oleh perubahan kelembaban lingkungan akan memungkinkan terciptanya robot yang tidak tergantung dari baterai. Dengan kata lain para ilmuwan Korea Selatan ini berusaha menciptakan robot yang tidak tergantung pada sumber tenaga pada umumnya (listrik dan bahan bakar). Sejauh ini, para ilmuwan sedang berusaha untuk menemukan desain optimal bagi struktur bilayer buatan yang mampu memberikan kecepatan gerakan tertinggi. Tujuan berikutnya adalah menciptakan robot yang mampu mengobati luka pada permukaan kulit manusia, tentunya dengan mekanisme gerak akibat perubahan kelembaban lingkungan.

Credit: Science DailyKlik SMASridianti.

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply