Sebuah studi mengungkap penyebab kesalahan fatal kasus pengobatan berbasis stem-cell yang berujung pada kebutaan pasien!

Pada tahun 2015 lalu tiga orang pasien wanita menjalani sebuah ujicoba pengobatan berbasis stem-cell atas sakit degradasi makula yang mereka alami. Pengobatan tersebut mereka lakukan di sebuah klinik di Florida, Amerika Serikat. Tidak disangka-sangka, selang satu minggu setelah proses operasi, mereka bertiga justru mengalami komplikasi termasuk kehilangan penglihatan, terlepasnya retina, serta pendarahan. Mereka akhirnya mengalami kebutaan permanen!

Berusaha mengungkap penyebab kegagalan pengobatan tersebut, Jeffrey Goldberg, MD, PhD, bersama para mahasiswanya dari Stanford University Medical Center melakukan sebuah studi khusus untuk menyelidiki kejadian ini. Hasil penelitian mereka ungkap melalui sebuah jurnal yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine. Jurnal tersebut oleh Goldberg yang seorang profesor oftamologi, disebut sebagai “seruan untuk kewaspadaan bagi pasien, dokter dan pihak regulator atas resiko penelitian pasien-berbayar dengan regulasi minimum.”

“Ada begitu banyak harapan bagi stem-cell, dan klinik ini muncul sebagai harapan bagi pasien yang sudah putus asa mencari perawatan serta berharap stem-cell dapat menjadi jawaban. Tetapi pada kasus ini, para wanita ini bergabung bersama perusahaan klinik yang amat sangat berbahaya,” demikian ungkap Thomas Albini selaku profesor oftamologi dari University of Miami yang merawat dua korban malpraktik ini.

 photo 8BD5DE5F-C475-4EDB-9663-F64812511B61.jpg
Jeffrey Goldberg

Kesalahan pertama dari malpraktik yang diungkap oleh studi ini adalah adanya penarikan biaya kepada pasien sebesar US$5.000. Tentu hal ini tidak dibenarkan karena pengobatan stem-cell yang diterapkan kepada pasien masih dalam tahap ujicoba.

Pada saat pengobatan dilakukan, diambil sejumlah sel lemak dari area perut pasien. Diambil juga sejumlah sampel darah untuk mendapatkan kandungan trombosit-padat. Jaringan lemak perut selanjutnya melewati sejumlah proses pemberian enzim, dengan harapan mendapatkan stem-cell. Trombosit-padat sendiri mengalami proses isolasi dari sampel darah. Stem-cell kemudian dicampurkan dengan plasma trombosit padat, dan diinjeksikan ke mata pasien. Para pasien menyebutkan proses ini semua hanya berlangsung tidak lebih dari satu jam. Tak hanya itu, sebuah kesalahan lain yang tidak seharusnya terjadi adalah kedua mata pasien diperlakukan sekaligus dalam satu waktu. Tentu hal ini tidak dibenarkan, karena menurut Albini dan Goldberg, seharusnya dokter harus melakukan pendekatan konservatif dengan mengamati respon salah satu bola mata sebelum lebih lanjut melakukan hal yang sama pada mata kedua.

Kesalahan dalam mempersiapkan stem-cell dapat berakibat komplikasi pada pasien. Hal ini dapat terjadi karena kontaminan, atau bisa juga zat pencuci stem-cell yang ikut terbawa pada saat proses injeksi. Bisa juga jaringan stem-cell yang diinjeksikan tersebut berubah menjadi myofibroblast, sebuah jaringan yang terbentuk akibat luka pada tubuh kita.

Namun demikian, Goldberg dan Albini mengungkapkan bahwa sekalipun proses pengobatan ini dilakukan dengan tepat, masih belum ada bukti kuat metode ini akan berhasil mengobati degradasi makula pasien. Karena faktanya adalah masih terlalu sedikit bukti kuat bahwa pengobatan menggunakan stem-cell turunan jaringan lemak (adipose-derived stem-cell) akan mampu mendiferensiasi dan tumbuh dewasa, pada jaringan pigmen retina mata sebagai jaringan yang berperan utama atas terjadinya degradasi makula.

“Ada banyak bukti kuat akan potensi positif terapi stem-cell untuk berbagai penyakit manusia, namun tentu tidak dibenarkan jika dilakukan pada sebuah ujicoba tidak terstruktur dan hanya berdasarkan penelitian pra-klinis,” ungkap Goldberg dilansir dari Science Daily.

Tentu fakta ini menjadi peringatan bagi siapapun yang tertarik dengan metode pengobatan stem-cell. Pengobatan modern ini memang diketahui mampu menumbuhkan jaringan-jaringan tubuh baru pada pasien yang mengalami gangguan kesehatan pada salah satu organ tubuhnya. Apalagi dengan metode baru yang cukup dengan mengambil jaringan lemak perut, pengobatan ini tidak lagi memerlukan jaringan tali pusar semasa bayi untuk menumbuhkan jaringan stem-cell. Dengan adanya kasus ini, tentu para ilmuwan akan terus mengembangkan metode-metode terapi stem-cell yang aman agar tidak akan kembali terjadi kesalahan yang sama.

Credit: Science Daily, The New England Journal of Medicine, Journal: Adipose-derived Stem Cells.

Post Author: Onny

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply