Sedikit menjijikkan: robot penyelamat bencana alam ini berbentuk kecoa!

Mendengar kata kecoa, saya yakin pikiran Anda langsung terisi dengan hal-hal menjijikkan yang sudah menjadi trademark serangga ini. Kecil, lincah, hidup di lingkungan kotor, hingga kegemarannya mengejar kaki Anda saat Anda ganggu, menjadi alasan kuat hewan ini bernasib sial sehingga dibenci banyak orang. Namun tahukan Anda bahwa ternyata beberapa ilmuwan robotika dari University of California sangat terinspirasi oleh hewan ini.

 photo D483E512-D0AE-4593-841B-85008EE54275.jpg

Satu kemampuan kecoa paling menarik adalah kemampuannya yang masih dapat bergerak di ruangan amat sangat sempit bahkan hingga hanya seperempat dari ukuran asli tubuhnya. Istimewanya lagi, dengan sistem eksoskeleton atau rangka luar tubuh semacam cangkang, membuat hewan ini masih mampu bergerak saat ada beban di atasnya hingga 300 kali lipat. Bahkan ia mampu menahan beban di atasnya hingga 900 kali lipat dari berat tubuhnya sendiri, tanpa mengakibatkan luka sedikitpun. Konstruksi kaki-kakinya yang fleksibel juga mendukung kemampuannya tersebut. Beberapa keistimewaan inilah yang mengilhami Robert Full dan rekan-rekannya untuk membangun sebuah robot penyelamat berbentuk kecoa.

Mengapa robot penyelamat harus berbentuk kecoa? Sebuah bencana alam tidak terduga, mampu meluluhlantakkan berbagai jenis bangunan dari yang berukuran kecil hingga gedung-gedung bertingkat menjadi tumpukan lantai beton yang sangat kacau. Akan tercipta banyak rongga sempit yang mungkin ada korban terperangkap di sana. Manusia maupun anjing penyelamat bisa jadi kesulitan untuk menggapai korban tersebut. Menunggu bantuan alat berat? Alasan waktu menjadi faktor penting mencari korban selamat di sebuah chaos bencana alam. Semakin cepat korban ditemukan, semakin besar pula kemungkinan bertahan hidupnya. Nah, di sinilah robot kecoa berpotensi besar menjadi alat penyelamat paling masuk akal. Kemampuannya bergerak di ruang sempit menjadi kelebihan yang paling penting saat terjadi bencana. Robot ini diharapkan mampu dengan cepat mencari korban bencana dengan memasuki tumpukan reruntuhan bangunan yang sempit.

 photo 6D0E6D36-EE97-458C-AD67-42306B707A63.jpg

Robot yang diberi nama CRAM (singkatan dari Compressible Robot with Articulated Mechanisms) ini memiliki konstruksi badan khusus, sehingga secara fleksibel ia masih mampu menggerakkan kaki-kakinya di ruangan sempit. Mirip dengan kecoa juga, karena gesekan badannya dengan ruangan robot ini akan berjalan lebih pelan jika melewati ruang sempit, dan akan lebih pelan lagi jika semakin masuk ke ruang yang lebih sempit dari sebelumnya. Dengan tinggi prototype robot yang hanya 75 milimeter, para ilmuwan mengklaim bahwa robot ini mampu masuk ke ruangan dengan luasan separuh ukuran tubuhnya.

image

Jika Anda ingat tentang kompetisi robot penyelamat bencana alam DARPA, robot kecoa ini tidak bisa disamakan dengan robot-robot dari kompetisi tersebut yang lebih ke arah humanoid. Jika robot-robot dari kompetisi DARPA tersebut mampu melewati tangga, membuka dan menutup keran, membuka pintu, membuat lubang di dinding, maka CRAM bekerja dengan cara lain. Visi pembuatannya adalah untuk menjangkau area-area yang tidak mungkin dijangkau oleh robot-robot penyelamat yang lain. Sungguh sebuah konsep yang saling melengkapi!

Credit: Wired, Mashable

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply