Siswa Salah Satu SMA di Jakarta ini Ciptakan Tong Sampah Pintar

Ryan Timothy Abisha, siswa salah satu SMA di Jakarta ini membuat tempat sampah pintar yang bisa memilah jenis sampah sendiri. Alat temuan yang dinamakan Smart Trash Bin ini berhasil menyabet medali perak kategori Green Technology dalam kompetisi International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Harbin, Cina, pada 15 sampai 20 Juli lalu. Bahkan, ia memperoleh Special Award from Japan dan Special Award form Macau. Siswa kelas XI Sampoerna Academy Jakarta ini memulai proyek penelitian tempat sampah pintar sejak Maret 2016. Butuh waktu 2 bulan untuk membuat alat ini dengan biaya sekitar Rp 700 ribuan.

Tong sampah pintar ini memiliki sejumlah komponen, yakni sensor yang bertugas untuk memilah, 3 tong sampah, dan rangkaian sirkuit. Cara kerjanya cukup sederhana, orang yang ingin membuang sampah cukup menempelkan sampahnya ke sensor yang letakkan di atas tempat sampah. Setelah itu sensor akan memberikan sinyal agar tutup tempat sampah yang sesuai dengan kategori itu terbuka. Tong sampah ini ada tiga kategori, ada organik, non organik dan besi.

13458697_952211828225094_3118201416948765674_o

Sensor yang digunakan oleh Ryan terinspirasi dari sensor cat listrik yang dapat mendeteksi adanya bahan-bahan non konduktor dari jarak 300 mm. Ia pun mendesain sendiri sebuah sensor kapasitif yang mirip dengan cat listrik, namun dari bahan-bahan yang lebih ekonomis. Terpilihlah material karbon aktif sebagi bahan utama sensor yang akan ia ciptakan, Dari penelitian yang Ryan lakukan, dengan mengalirkan arus listrik kecil ke sensor karbon aktif, akan diperoleh output angka yang berbeda-beda sesuai dengan jenis sampah yang didekatkan ke sensor tersebut. Atas dasar hal inilah Ryan pun mampu membangun pemilah sampah otomatis ini.

Ide pembuatan Smart Trash Bin muncul atas kondisi kota Jakarta. “Menurut berita, enam ribu hingga tujuh ribu ton sampah kita dikumpulkan ke TPA Bantargebang, Bekasi,” kata Ryan. Sampah yang terkumpul di sana pun hasilnya tercampur dengan berbagai jenis sampah. Padahal sampah sudah seharusnya dipisah berdasarkan kategori agar lebih mudah didaur ulang.

Ryan tidak menampik pemerintah telah menyediakan tempat sampah termasuk pemilahan jenis sampahnya di lokasi umum. Bahkan, tempat sampah yang disediakan pemerintah harganya bisa mahal. Namun sayangnya, fakta di lapangan membuktikan masyarakat tidak mengetahui benar cara memilah jenis sampah. Mereka terkadang memasukkan sampah organik di tempat yang non organik.

Ryan  melakukan penelitian dengan didampingi guru pembimbing di sekolahnya, Sampoerna Academy. Menurutnya pendidikan menggunakan sistem STEAM yang berbasis pada science, technology, engineering, art dan math ini sangat membantu dia dalam mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya.

Ryan saat ini terus mengembangkan tempat sampah pintar buatannya. Ke depan dia ingin menjadikan tempat sampahnya bisa memiliki sensor yang bisa mendeteksi berat sekaligus mematenkan temuannya.

Credit: thoharianwarphd.com, Republika, Detik, Tajuk

Post Author: Vivi Alhambra

Leave a Reply