Skarp Laser Razor, pisau cukur pertama di dunia dengan pemotong laser

Baik pria maupun wanita pasti sering melakukan aktivitas mencukur, terutama pria untuk mencukur kumis atau jenggot. Secanggih apapun pisau cukur yang kita pakai, entah itu memakai pelapis nilon, atau memakai pendekatan dua pisau cukur yang tajam agar hasil yang diperoleh lebih halus, namun tetap saja masalah iritasi kulit menjadi sering dialami penggunanya.

Perkenalkan Skarp Laser Razor, pisau cukur pertama di dunia yang menggunakan teknologi laser di dalamnya sebagai pengganti mata pisau. Metode yang dipakai sama seperti pisau cukur pada umumnya, hanya saja mata pisau yang biasa ada digantikan oleh teknologi laser.

 photo 6bca178f67bbc5f6542ea4cb18a730b7_original_zps12etlhun.jpg
 

Pisau cukur revolusioner ini menggunakan 1 buah baterai tipe AAA yang dapat bertahan selama 1 bulan sebagai sumber tenanganya, dan kamu ga perlu kuatir untuk ganti-ganti pisai cukur, karena produk ini bisa terus dipakai. Kamu tidak perlu kuatir karena laser mungkin akan membuat kulit terbakar, karena Skarp Laser Razor hanya menggunakan daya yang sangat kecil yang hanya mampu memotong bulu di permukaan kulit saja, atau juga tidak perlu kuatir akan mencium bau hangus (gosong) karena memang Skarp hanya memotong bukan membakar bulu tersebut. Bebas iritasi kulit dan tanpa krim pelembab atau air sebagai media saat mencukur. Cukup gunakan Skarp Laser Razor dan semua selesai.

 photo d51b166fd7866c1d0dcf81c9935ae913_original_zpsr5rtjl2e.gif

 photo b8635bc68ad0ca6414119061b0a8f00a_original_zps89anbteh.png
 

Pisau cukur canggih yang rencananya dijual seharga US$ 200 dikembangkan oleh Morgan Gustavsson dan Paul Binun. Morgan Gustavsson telah bekerja di Industri kosmetik dan laser selama tiga dekade. Paul Binun bergabung bersamanya dan menjadikan produk ini terealisasi.

 photo fcab053cadf315c3ff6ef2d1caff88d7_original_zps9icp6uvz.gif
 

Credit: kickstarter.com

Post Author: Andri Eko

Seorang anak manusia yang menyukai perkembangan teknologi otomotif dan gadget.

Leave a Reply