Teknologi Implan Otak Tanpa Kabel untuk Mengendalikan Kursi Roda dengan Pikiran

Mengendalikan barang-barang hanya dengan pikiran sudah bukan lagi hanya ada dalam cerita fiksi. Para peneliti yang berasal dari Duke University telah menemukan cara untuk mengendalikan perangkat dengan menggunakan otak. Mereka menggunakan berbagai penelitian yang berkaitan dengan perangkat implan otak tanpa kabel, cara kerja otak yang berkaitan dengan pergerakan, dan cara menerjemahkan sinyal otak menuju bahasa pemrograman komputer sehingga dapat menciptakan kursi roda yang dapat mengendalikan kursi roda dengan pikiran.

Objek pada eksperimen ini menggunakan kera sebelum akhirnya dicoba oleh manusia. Hasilnya telah terbukti bahwa kera yang digunakan dalam eksperimen mampu bergerak menuju ke mangkuk berisi buah anggur yang diletakkan di bagian tengah ruang eksperimen. Peneliti sengaja meletakkan mangkuk berisi anggur untuk memotivasi kera tersebut agar mau bergerak. Melihat kesuksesan penelitian mereka, Miguel Nicolelis beserta timnya sangat positif bahwa penelitian mereka akan sangat banyak membantu orang-orang yang lumpuh atau tidak mampu berjalan, sehingga mereka tetap dapat bebas bergerak kemana saja mereka inginkan.

31CED70700000578-3474790-image-a-50_1457012572443

Nicolelis berkata “Kami melakukan penelitian mengenai kursi roda yang dapat dikendalikan dengan pikiran, karena pengendalian seperti ini penting bagi orang yang mengidap penyakit quadriplegia maupun ALS. Orang-orang yang mengidap penyakit tersebut pasti sudah tidak dapat menggerakkan tangan, sehingga kursi roda dengan menggunakan tombol maupun joystick kurang bermanfaat bagi mereka. Mereka tetap tidak dapat hidup mandiri dengan menggunakan kursi roda yang membutuhkan tombol maupun joystick untuk bergerak”.

Nicolelis juga menjelaskan bahwa kera yang digunakan dalam eksperimen tetap membutuhkan latihan agar terbiasa menggunakan kursi roda dengan implan otak. Setiap kera juga membutuhkan lama waktu latihan yang berbeda untuk membiasakan diri. Ada kera yang tergolong cepat dalam menguasai tehnik ini dan ada kera yang lambat untuk membiasakan diri bergerak menggunakan kursi roda yang mereka ciptakan. Namun Nicolelis dan timnya percaya jika kursi roda ini diterapkan kepada manusia, mereka hanya memerlukan waktu yang lebih singkat untuk menyesuaikan diri.

 photo bnsvaodbm7auxv85v9kw.png

Nicolelis dan timnya menjelaskan bahwa sebenarnya kursi roda yang dikendalikan dengan pikiran sudah pernah ada. Hanya saja kursi roda tersebut membutuhkan kabel yang terhubung ke kepala tanpa melalui implan ke otak, diproduksi dalam jumlah yang terbatas, dan pergerakan yang dihasilkan tidak sebaik kursi roda yang mereka ciptakan. Kursi roda lama tersebut menggunakan teknologi yang dinamakan EEG’s. Memang kursi roda teknologi EEG’s sangat berbeda dengan kursi roda implan otak, karena kursi roda implan otak membutuhkan operasi untuk menanamkan ratusan susunan multi-elektroda ke dalam otak. Ratusan susunan multi-eletroda yang ditanam hanya setebal rambut untuk setiap elektrodanya. Sedangkan mengenai keamanan alat yang ditanamkan ke otak ini, timnya telah membuktikan bahwa susunan multi-elektroda tersebut telah tujuh tahun ditanamkan di otak kedua kera pada eksperimen dan tidak ada efek samping negatif yang muncul hingga kini.

Credit: Daily Mail, Gizmodo, Spectrum IEEE, Time, Popular Science

Post Author: Novia Fitriana

Science is my passion...

Leave a Reply