Telah Ditemukan Biosensor Terbaru untuk Meningkatkan Proses Biomanufacturing Bahan Bakar!

Beberapa waktu lalu, sebuah biosensor terbaru yang mampu mendukung pemrograman genetik pada bakteri umum, seperti E.coli, telah ditemukan. Pemrograman genetik adalah syarat utama dari biomanufacturing. Biomanufacturing sendiri adalah proses modifikasi dan produksi berbasis makhluk hidup. Satu hal yang menarik dari pemrograman genetik pada E.coli ini adalah bahwa pemrograman ini dilakukan dengan tujuan menghasilkan bahan bakar dan bahan kimia berharga yang berasal dari proses metabolisme sel E.coli. 

  
Studi tentang pemrograman genetik E.coli dilakukan dengan harapan kuat tentang suatu saat manusia dapat memodifikasi proses metabolisme sel E.coli atau jenis bakteri lain untuk memproduksi bahan bakar dan bahan kimia berharga. Sebab proses metabolisme bakteri ternyata dapat digunakan untuk mengkonversi unsur-unsur alam menjadi obat-obatan, plastik, bahkan bahan bakar! 

Ide Dasar

Menurut George Church, seorang ilmuwan pelopor ilmu konversi biologi dari Wyss Institute, ide dasar dari pemrograman genetik ini adalah “evolusi yang dipercepat”. Itu saja, tidak kurang dan tidak lebih! Anda tentu mengetahui bahwa minyak bumi berasal dari reaksi kimia pada berbagai fosil kayu dan binatang selama jutaan tahun. Nah, singkatnya para ilmuwan yang dipimpin Church berusaha mempersingkat proses evolusi alami tersebut dengan bantuan bakteri! 

Fungsi Biosensor Dalam Pemrograman Genetik

Biosensor untuk mendukung proses biomanufacturing terbuat dari berbagai komponen biologis, seperti protein, fluorescent, dan detector yang berfungsi untuk mendeteksi dan merespon kehadiran unsur kimia tertentu. Bionsensor disini berfungsi sebagai semacam “saklar” untuk menghidupkan dan mematikan pemrograman sel bakteri. 
 photo Attachment-1.jpeg

Perkembangan

Sebelum ini para ilmuwan baru dapat merancang berbagai biosensor yang memiliki hanya sedikit efek pada proses biomanufacturing bahan-bahan kimia berharga. Dengan kehadiran biosensor terbaru ini, para ilmuwan dapat meningkatkan “fungsi saklar” pada pemrograman genetik, bahkan menurut Nucleic Acids Research journal, biosensor terbaru mampu mendeteksi “sinyal” yang diberikan mikroba. Sinyal yang dimaksud ini dapat menunjukkan tingkat efisiensi dari proses biomanufacturing

Dengan menggunakan biosensor terbaru, para ilmuwan dapat “berkomunikasi” dengan sel secara lebih efektif. Paling tidak itulah yang dikatakan oleh Jameson Rogers, seorang peneliti di Wyss Institute. Biosensor terbaru juga dapat memicu sel-sel untuk menghasilkan fluorescence. Untuk diketahui, tingkat produksi fluorescence berbanding lurus dengan kemampuan kita menghasilkan bahan kimia berharga. 

Fungsi lain

Para ilmuwan berasumsi bahwa studi ini dapat dikembangkan dengan menggunakan mikroba hasil rekayasa genetika. Maksudnya adalah penggunaan biosensor terbaru ini akan mendeteksi “sinyal” yang dikeluarkan oleh mikroba yang terpapar racun atau polutan. Tentu saja hal ini dilakukan dengan tujuan mendeteksi apakah suatu lingkungan memiliki tingkat polusi berlebih atau tidak. 

 photo Attachment-1.gif

Kedepannya, para ilmuwan akan mengembangkan biosensor yang mampu melakukan kontrol lebih baik di tingkat molekuler. Bagaimanapun para ilmuwan sepertinya sepakat bahwa masalah-masalah ketersediaan pangan dan sumber energi bagi manusia di masa depan hanya bisa diselesaikan dengan modernisasi biomanufacturing.

Credit: Scitech Daily, News Harvard.

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply