Ternyata, Kulit Astronot Menipis Akibat Misi Mereka Menjelajahi Ruang Angkasa!

Berbagai efek samping yang dialami oleh para astronot sepulang mereka dari misi ruang angkasa memang telah banyak diketahui. Seperti melemahnya kualitas penglihatan akibat kurang lancarnya aliran darah di kepala, kekuatan otot menurun akibat tidak adanya gaya gravitasi sehingga otot-otot tidak terlatih untuk menahan berat badan, sampai dengan berkurangnya densitas tulang para astronot satu hingga 2 persen per bulannya. Tak ayal para astronot membutuhkan waktu pemulihan kondisi cukup lama sepulang dari misi mereka. Seperti yang dilakukan oleh Komandan ISS Chris Hadfield yang membutuhkan waktu pemulihan beberapa bulan untuk mengembalikan masa otot serta tulangnya sepulang dari lima bulan misi ruang angkasa.  

Komandan ISS Chris Hadfield
 

Bahkan yang terbaru ilmuwan menemukan bahwa misi ruang angkasa akan menipiskan kulit para astronot. Dikutip dari Cnet, Reuters melaporkan bahwa sebuah penelitian yang dipimpin oleh Karsten Koenig, Guru Besar Fakultas Fisika dan Mekatronika dari Departemen Biofotonik dan Teknologi Laser Universitas Saarland Jerman, menggunakan teknologi laser untuk mengetahui adanya penipisan lapisan epidermis kulit hingga 20% untuk misi ruang angkasa selama enam bulan. 

“Kami menemukan adanya penipisan lapisan epidermis kulit hampir 20%. Dan sejauh ini masih belum ada penjelasan medisnya. Jika ini terjadi selama enam bulan, pertanyaannya adalah bagaimana jika misi perjalanan ke planet Mars membutuhkan waktu paling tidak satu hingga dua tahun, tentu akan tidak baik jika lapisan epidermis kulit akan terus menipis dan menipis,” demikian ungkap Profesor Koenig. 

Samantha Cristoforetti Berada di Ruang Angkasa Selama 199 hari

NASA memang berencana melakukan ekspedisi ke Mars di tahun 2030 nanti. Tentu dibutuhkan data-data akurat mengenai kesehatan astronot selama mereka berada di ruang angkasa. Untuk itu saat ini ada dua astronot dari NASA dan Russian Federal Space Agency yang sedang melakukan ekspedisi di salah satu stasiun ruang angkasa selama satu tahun untuk memenuhi data-data kesehatan astronot saat mereka berada di area gravitasi nol dalam jangka waktu lama. NASA juga sedang mengembangkan perangkat gravitasi buatan dengan menciptakan gaya sentrifugal di dalam sebuah ruangan. 

Credit: Cnet, Reuters, Artificial Gravity.

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply