“Topmix Permeable,” beton dengan kemampuan serap air 4.000 liter dalam 60 detik!

Jakarta banjir? Surabaya di beberapa jalan utama banyak genangan air? Ah, kayaknya cerita itu sudah sering kita dengar. Disamping karena banyak sampah yang dibuang sembarangan, sanitasi yang amburadul, namun juga akibat daya serap tanah yang berkurang karena banyaknya bangunan beton di kota metropolis tersebut.

 photo Permeable_Concrete_headhjhker_zpsu5jbred7.png

Nah, bagaimana jika dibuatkan beton dengan kemampuan menyerap air? Kelihatannya merupakan salah satu solusi yang bagus. Adalah Tarmac, yang merupakan salah satu industri di UK yang mencoba menciptakan beton dengan kemampuan menyerap air. Tidak tanggung-tanggung, produk yang dinamakan “Topmix Permeable” ini memiliki kemampuan menyerap air sampai 4.000 liter per menit (60 detik) dengan rata rata 600 liter per menit dalam satu meter persegi (m2). Permeable atau dalam bahasa Indonesia disebut permeabilitas, dalam KBBI (Kamus Besar Bahsa Indonesia) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk difusi atau dilalui oleh zat atau partikel.

Topmix Permeable memiliki daya serap sebesar 36.000 mm/jam. Dengan asumsi curah hujan paling tinggi sekitar 300 mm/jam, maka produk ini memiliki daya serap air 120x lebih cepat dari curah hujan itu sendiri. Sayangnya untuk detail teknis material dan metode pembuatannya belum diaungkap ke publik oleh Tarmac.

 photo topmix-concrete_1024_zpsqwzii4nq.png

Untuk aplikasi perkotaan, terutama kota metropolis seperti Jakarta dan Surabaya, sepertinya produk ini sangat potensial. Air yg terserap dalam jalanan beton yang dibuat dengan konsep Topmix Permeable, dapat dialokasikan untuk dialirkan ke irigasi, saluran air untuk air minum, untuk penampungan di kolam, atau dialirkan kembali menuju muara sungai. Tinggal sistem penataannya yang perlu dikembangkan sebagai layer di bawah system Topmix Permeable.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video berikut:

 

Terdapat satu titik kelemahan pada system Topmix Permeable, adalah akan suhu rendah. Pada suhu yang sangat dingin, air akan mengkristal dan membeku yang tentu saja akan merusak struktur beton secara langsung. Tapi jika di Indonesia sepertinya tidak perlu khawatir, daerah tropis adanya cuma musim panas dan hujan saja. Apakah birokrasi kita tertarik untuk mengaplikasikan teknologi ini di sistem tata kota kita?!

 

Referensi: BuildingSolutions.com

Post Author: Andri Eko

Seorang anak manusia yang menyukai perkembangan teknologi otomotif dan gadget.

Leave a Reply