Adobe resmi telah membunuhnya: Selamat tinggal Adobe Flash!

Di tahun 2010, Steve Jobs membuat keputusan yang membuat banyak orang kecewa dengan tidak memasukkan fitur Adobe Flash ke browser iPhone, Safari. Ia menjelaskan bahwa Flash tidak aman, terlalu ‘dimiliki’ oleh Adobe, terlalu berat, dan sulit untuk diakomodasi oleh browser iPhone yang hanya mengandalkan sentuhan jari, bukannya cursor dari mouse. Setelah tujuh tahun bertahan, kini Adobe secara resmi mengakhiri pembaruan dan layanan Adobe Flash. Ya, plugin yang membuat sebuah halaman internet menjadi lebih interaktif ini akan hilang dari dunia maya.

Pada Selasa kemarin pihak Adobe resmi mengumumkan hal ini, dan mereka akan menghapus bersih layanan ini di tahun 2020. Maka sejak saat ini hingga tahun 2020, berbagai pihak pemilik halaman internet yang masih menggunakan Flash, mau tidak mau harus memperbarui halaman mereka. Tentu saja fitur-fitur interaktif HTML 5 menjadi solusi masalah ini.

Salah satu kelemahan utama Adobe Flash Player adalah kerentanannya terhadap peretasan. Seperti yang terjadi di tahun lalu saat sebuah lubang di Flash membuat banyak desktop Windows kecolongan peretas. Ini terlalu tidak normal, karena saat itu di bulan Juni dan Oktober terjadi begitu banyak peretasan.

flash_ded-02.png

“Flash telah menjadi favorit para peretas selamat beberapa tahun,” ungkap Jérôme Segura, pemimpin analis malware dari Malwarebytes seperti dilansir dari situs Wired. “Berdasarkan angka alarm eksploit nol-hari yang telah didistribusikan melalui kampanye periklanan besar, banyak komunitas keamanan mendesak para pengguna untuk menghapus Flash dari mesin mereka.”

Tidak digunakannya Flash Player oleh Apple pada iPhone sejak tahun 2010, kenyataannya tidak berhenti di situ saja. Di tahun 2012, Google juga telah menghapus fitur Flash dari platform Android. Menyusul versi mobile, pada September 2015 Google juga akhirnya secara otomatis memblokir iklan Adsense yang menggunakan fitur Flash, pengguna diharuskan meng-klik iklan tersebut jika ingin melihat iklan yang dimaksud. Browser baru Microsoft Edge, menambahkan opsi click-to-run pada setiap tampilan Flash Player sejak tahun lalu. Disusul oleh Firefox, akhirnya browser populer ini juga telah memblokir beberapa elemen Flash sejak beberapa bulan lalu. Terakhir, browser legendaris Internet Explorer yang masih sebatas berencana untuk tidak menggunakan Flash Player sama sekali nanti di tahun 2019, nampaknya harus mengurungkan niatnya karena ternyata apa yang Microsoft rencanakan harus mereka lakukan lebih dini.

Credit: Wired

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply