Alat pembaca pikiran ini membantu penderita lumpuh bisa mengetik dengan lebih cepat!

Tahukah Anda siapa Stephen Hawking? Ia adalah salah seorang ilmuwan fisika antariksa modern yang sangat berpengaruh di dunia yang bisa dikatakan sejajar dengan Einstein. Namun sakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang menyerang sistem syarafnya membuat ia harus lumpuh dan sempat menyulitkannya untuk berkomunikasi. Hingga saat ini pun ia harus menggunakan sebuah sensor khusus yang diletakkan di pipi kanannya agar ia dapat memilih huruf-huruf yang ada di layar monitor. Selanjutnya komputer akan memprediksi dan menterjemahkan apa yang ingin diucapkan oleh Hawking. Teknologi ini cukup klasik dan membuat sebuah tim ilmuwan dari Stanford University School of Medicine, Amerika Serikat untuk menciptakan sebuah alat yang mampu membaca pikiran seseorang yang lumpuh sehingga ia dapat mengetik dengan lebih cepat. 

Adalah tiga orang lumpuh bersedia menjadi sukarelawan untuk mencoba teknologi baru ini. Dua orang di antaranya mengalami ALS, sedangkan satu yang lain mengalami cedera pada tulang belakang. Mereka sebelumnya diberi tawaran untuk kembali bisa berkomunikasi dengan cara yang sama dengan Hawking yakni dengan menempatkan sensor di pipi mereka atau dengan sebuah sensor deteksi gerakan mata untuk memilih huruf-huruf yang ada pada layar komputer. Alternatif lain adalah dengan menggunakan alat baru yang lebih canggih yang dapat langsung membaca pikiran pasien. Alat ini bisa diimplant langsung ke dalam otak mereka atau juga diletakkan di luar kepala pasien. Namun teknologi ini masih belum bisa secepat alat-alat yang lain untuk bisa membantu pasien dalam mengetik kata-kata.


Malihat hal ini, Jaimie Henderson seorang dokter bedah syaraf Stanford University School of Medicine bersama timnya ingin membuat sebuah alat pembaca pikiran yang lebih cepat dari yang ada sebelumnya. Pertama mereka membuat sebuah sensor dari bahan silikon yang ditutup dengan ratusan sensor-sensor kecil khusus. Sensor ini diimplant ke dalam otak pasien tepatnya di bagian motor cortex primer. Area ini bertanggung jawab untuk mengatur gerakan tubuh. Selanjutnya sensor ini dihubungkan ke sebuah perangkat komputer melalui sambungan kabel. 

Pada saat pasien berpikir untuk menggerakkan anggota tubuhnya, di saat itulah sensor bekerja mendeteksi hal ini. Selanjutnya komputer akan menerjemahkan sinyal tersebut menjadi gerakan kursor di layar komputer. Dengan meningkatkan kemampuan komputer dalam menerjemahkan sinyal dari otak, para ilmuwan ini berhasil memperkecil jarak waktu antara pikiran pasien dengan gerakan kursor di komputer. “Semakin jauh kita memahami bagaimana motor cortex bekerja, kami mampu membuat decoder yang mampu mendekati kehendak pasien,” demikian ungkap Henderson dilansir dari New Scientist.

Keesokan harinya setelah proses implantasi sensor, pasien diminta untuk berlatih memilih huruf-huruf di layar komputer dan merangkai kata. Rata-rata para sukarelawan mampu mengetik enam hingga delapan kata tiap menitnya. Henderson mengungkapkan bahwa hal tersebut dua hingga tiga kali lebih cepat dari alat pembaca pikiran sebelumnya.

 photo 985C90F6-10D9-445A-BE59-6D4A047280B4.jpg

Salah satu pasien bernama Dennis DeGray berkomentar menggunakan alat baru ini dengan mengatakan “Ini seperti salah satu video game paling keren yang ingin saya mainkan selamanya.” Sedangkan salah satu yang lain mengatakan bahwa alat ini cukup intuitif.

Hingga saat ini Henderson bersama timnya masih terus mengembangkan alat ini. Selain terus meningkatkan keakuratan dan kecepatan pemrosesan sinyal otak, mereka ingin mencoba alat tersebut ke lebih banyak lagi respoden.

Credit: New Scientist

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply