Awas! Ketahanan bakteri terhadap antibiotik sudah dianggap sebagai ‘ancaman serius’ oleh PBB!

Antimicrobial resistance (AMR), atau yang berarti ketahanan terhadap antimikroba (antibiotik), saat ini sudah menjadi isu kesehatan dunia dan diketahui sebagai salah satu pembunuh populasi manusia terbesar di dunia. Dilansir dari Wired, saat ini diperkirakan ada 700.000 orang di dunia meninggal akibat antibiotik setiap tahunnya. Bahkan di tahun 2014 lalu, pemerintahan Inggris melalui Perdana Menteri saat itu David Cameron, memprediksi akan ada sepuluh juta jiwa meninggal dunia akibat bakteri maupun virus semakin resistif terhadap obat antibiotik.

Di seluruh penjuru dunia, semakin banyak kasus infeksi yang menjadi tahan terhadap pemberian obat antibiotik. Hal ini menyebabkan masa penyembuhan yang semakin lama, atau bahkan kematian. Di saat yang sama, selama ini penelitian untuk menggantikan fungsi dari antibiotik sangat minim dilakukan. Memang untuk beberapa saat antibiotik sangat ampuh menangkal berbagai jenis virus dan bakteri. Namun tentu dengan adanya fakta ini, dibutuhkan langkah besar untuk mengatasi ancaman ini.


Pada tanggal 21 September lalu, para pemimpin dunia yang tergabung dalam PBB, menggelar pertemuan di New York untuk membahas bersama masalah AMR ini. Pertemuan ini bahkan terhitung hanya yang keempat kalinya dilakukan oleh PBB untuk membahas isu kesehatan dunia setelah tema sebelumnya adalah HIV, NCD (noncommunicable diseases), serta Ebola. Para pemimpin negara maupun delegasi tersebut serius dan setuju agar secepatnya diambil pendekatan multi-sektoral dalam mengatasi permasalahan resistensi antibiotik ini.

Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengatakan bahwa resistensi antimikroba sudah menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan dunia.

“Jika kita gagal untuk mengatasi masalah ini secara cepat dan komprehensif, resistensi antimikroba akan membuat penjaminan kesehatan dunia berkualitas tinggi menjadi lebih sulit dan bahkan tidak mungkin,” ungkap Ban Ki-moon dikutip dari The Guardian. “Hal ini akan merusak ketahanan pangan serta target pembangunan bidang lain.”

Pada rapat yang dihadiri oleh 193 perwakilan negara ini, semua peserta setuju melalui sebuah deklarasi untuk memerangi penyebaran resistensi antibiotik. Deklarasi ini menjadi tonggak sejarah yang sama di saat seluruh pemimoin dunia setuju untuk ambil bagian dalam mengatasi krisis pemanasan global. Ditargetkan dalam dua tahun ke depan, akan ada kemajuan berarti dalam mengatasi krisis ini.

Sebuah studi resmi di bawah pantauan pemerintahan Inggris, telah melakukan penelitian terhadap beberapa bakteri dan virus penyebab penyakit berbahaya saat ini. Fokus mereka adalah menemukan seberapa besar ketahanan virus dan bakteri tersebut terhadap obat antibiotik. Klebsiella pneumonia, Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, HIV, Tuberculosis (TB), dan Malaria, menjadi objek utama penelitian ini.

Studi mereka menyebutkan bahwa E. coli, malaria, dan TB adalah yang paling besar memberikan dampak nyata. Resistensi antibiotik malaria saja, menjadi satu yang paling besar mengakibatkan kematian. Bahkan Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan resiko resistensi antibiotik malaria terbesar selain India dan Nigeria. Selain itu bakteri E. coli yang mampu bertahan terhadap antibiotik, diketahui mampu menurunkan secara signifikan GDP (Gross Domestic Product) sebuah negara.

Sudah jelas bahwa masalah resistensi antibiotik perlu dikedepankan. Tidak hanya pihak pemerintah yang harus memikul sendiri permasalahan ini, namun tentu saja industri farmasi, pekerja kesehatan, hingga para ilmuwan, harus segera menemukan alternatif pengganti obat antibiotik.

Credit: The Guardian, WHO, Wired, HM Government

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply