Benarkah jumlah oksigen Bumi menurun drastis?

Level oksigen di atmosfer Bumi kita menurun cukup banyak jika dibandingkan dengan kondisi satu juta tahun yang lalu. Sekalipun kondisi ini tidak membahayakan kehidupan di Bumi, namun inilah penemuan terakhir para ilmuwan dari Princeton University, New Jersey, Amerika Serikat. Para peneliti mengungkapkan bahwa apa yang mereka temukan ini dapat menjadi sumber penjelasan mengenai hal-hal yang mempengaruhi level oksigen di atmosfer.

Jumlah oksigen di atmosfer kita sangat berhubungan dengan evolusi kehidupan di Bumi, termasuk perubahan siklus geo-kimia berkaitan dengan variasi iklim. Sejauh ini para ilmuwan berusaha untuk merekonstruksi bagaimana perubahan jumlah oksigen di atmosfer kita dari masa ke masa, serta hal-hal yang mempengaruhinya.

“Belum ada kesepakatan umum apakah jumlah oksigen di atmosfer Bumi masih seimbang atau tidak sebelum masa-masa penggunaan bahan bakar fosil, atau paling tidak tahu apakah jumlahnya bertambah atau berkurang,” ungkap Daniel Stolper, pemimpin studi seperti dikutip dari Seeker. Memang selama ini para ilmuwan sadar bahwa belum ada data akurat mengenai jumlah oksigen di atmosfer Bumi seiring perubahan jaman. Merekapun belum memunculkan kesepakatan berapa jumlah oksigen di atmosfer dari masa ke masa.

stolper3hr
Lokasi pengeboran inti es di Greenland

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Princeton University, para ilmuwan mengkalkulasi jumlah oksigen atmosfer dengan mengamati sampel udara yang terperangkap di dalam es prasejarah. Mereka mengebor dan mengambil sampel es di Greenland dan Antartika hingga kedalaman inti es Pleistocene. Melalui metode ini mereka menemukan bahwa jumlah oksigen atmosfer turun hingga 0,7 persen dibandingkan dengan kondisi atmosfer Bumi 800.000 tahun yang lalu. Mereka menyebutkan bahwa tingkat penurunan jumlah oksigen lebih cepat 1,7 persen daripada jumlah penghasil oksigen di Bumi.

Namun demikian, para peneliti tetap melihat bahwa perubahan jumlah oksigen atmosfer ini masih berkaitan erat dengan perubahan ekosistem Bumi. Satu alasan yang paling mendasar adalah bahwa penurunan jumlah oksigen mencapai 0,7% adalah ketika kita berada di sebuah tempat dengan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Ini hanya sama dengan berada di puncak gedung dengan ketinggian 30 lantai. Maka dari itu, para peneliti menawarkan dua hipotesis untuk dapat menjelaskan adanya penurunan jumlah oksigen atmosfer selama 800.000 tahun ini.

“Pertama adalah adanya erosi global yang jumlahnya terus meningkat selama beberapa sampai sepuluh juta tahun belakangan ini. Hal ini terjadi akibat pertumbuhan gletser yang merusak bebatuan, sehingga meningkatkan erosi,” kata Stolper. “Alternatif lain adalah, pada saat lautan mendingin, yang terjadi selama 15 juta tahun sebelum pembakaran bahan bakar fosil, jumlah oksigen terlarut di dalam lautan tersebut meningkat. Lautan memang lebih mudah melarutkan oksigen jika dalam keadaan dingin.”

Stolper berharap akan ada penelitian lebih lanjut nantinya, untuk mengetahui proses geologi apa yang dapat mempengaruhi penemuannya ini. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, maka ke depan kita bisa saja akan mengontrol jumlah oksigen atmosfer sehingga tidak akan mengganggu keseimbangan hidup.

Credit: Seeker, Science Magazine, Live Science

Post Author: Onny

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply