Darurat Resistensi Antibiotik: Lalat ternyata mampu menularkan resistensi antibakterial dari peternakan ke manusia!

Sebuah penelitian mengenai resistensi terhadap antibiotik kembali memberikan sebuah hasil yang mengejutkan. Sebuah studi sistematik menyebutkan bahwa resistensi antibiotik yang telah dicanangkan WHO sebagai sebuah keadaan darurat ini cenderung lebih rentan menyerang kawasan rumah sakit dan peternakan di Cina terutama peternakan ayam dan daging. Lebih buruk lagi, penelitian ini menyebutkan untuk pertama kalinya bahwa gen yang membuat bakteri menjadi resistif terhadap antibiotik ternyata dapat ditularkan oleh lalat.

Antibiotik untuk saat ini memang menjadi sebuah metode paling ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus ataupun bakteri. Penggunaan antibiotik carbapenem misalnya sempat ampuh memerangi banyak penyakit. Namun tak lama berselang bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik ini. Maka digunakanlah antibiotik lain seperti colistin salah satunya. Akan tetapi di tahun 2015, resistensi terhadap antibiotik ini sudah ditemukan di Cina. Tak lama berselang, saat ini resistensi berkode mrc-1 ini telah tersebar di 25 negara di empat benua.


Memang mrc-1 untuk pertama kalinya ditemukan di Cina. Namun cara resistensi ini berkembang tak seperti di negara-negara lain yang menggunakan colistin murni untuk pengobatan penyakit manusia. Colistin di Cina tidak digunakan untuk mengobati sakit, tetapi 8000 ton setiap tahunnya diberikan kepada hewan-hewan ternak seperti babi dan ayam sebagai stimulus pertumbuhannya. Memang pada bulan April tahun ini praktek tersebut akan dilarang di seluruh dataran Cina. Namun sepertinya sudah terlambat.

Sebuah tim peneliti pimpinan Tim Walsh dari Cardiff University, Inggris, mengungkapkan bahwa resistensi terhadap antibiotik colistin ditemukan di sekitar satu persen pasien rumah sakit di dua kota besar di Cina. Anehnya, antibiotik colistin tidak pernah digunakan untuk mengobati pasien di Cina. Ini menandakan bahwa resistensi tersebut mampu ditularkan melalui media lain.

Penelitian lain yang juga dilakukan oleh tim yang sama menyebutkan bahwa sepertiga bakteri Escherichia coli yang diambil sampelnya dari ayam dan daging peternakan sudah resistif terhadap carbapenem, dan seperempatnya lagi juga sudah resistif terhadap colistin. Dan seakan gen resistif ini memiliki sayap, para peneliti juga menemukan bahwa bakteri-bakteri resistif ini juga ditemukan di lalat-lalat peternakan dan kotoran anjing. Penemuan ini adalah yang pertama kalinya dan menunjukkan bahwa lalat bisa menularkan resistensi antibiotik dari hewan-hewan peternakan ke manusia.

“Kemampuannya untuk mengkontaminasi lingkungan sangat menarik perhatian ,” demikian kesimpulan tim peneliti. Walsh juga menambahkan dikutip dari New Scientist, “Mungkin inilah mengapa pasien rumah sakit yang tinggal jauh dari peternakan lebih tidak rentan terhadap infeksi resistensi pada musim panas. Pada musim panas lalat beterbangan ke segala arah sambil membawa bakteri resistif tersebut.”

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Lance Price dari George Washington University, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa penularan resistensi antibiotik juga berpotensi lewat makanan yang ditelan manusia. Peneliti yang juga menemukan bakteri resistif di daging supermarket ini menyebutkan bahwa resistensi antibakterial yang berhulu pada peternakan, akan berlanjut ke rumah potong, pasar atau supermarket, dan berakhir ke konsumen.

“Hal ini cukup mengkhawatirkan jika Cina secara resmi akan menggunakan colistin ke manusia sebagai obat,” ungkap Price. Kondisi ini akan membuat ledakan pertumbuhan manusia yang secara diam-diam ternyata sudah membawa gen resistif antibiotik mrc-1.

Permasalahan tak hanya berhenti di situ saja, Walsh juga khawatir jika produsen antibiotik berhenti memasok berton-ton colistin ke Cina, mereka akan berusaha mengekspor obat ini ke negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand. Hal ini tentu akan memicu ledakan resistensi antibiotik kembali di negara-negara baru tersebut.

Credit: New Scientist

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply