Ikan ini mampu menyembuhkan otaknya sendiri yang beku akibat musim dingin!

Setiap musim dingin, ikan mas Eropa utara akan membeku di dalam es. Selama membeku, asupan oksigen terhenti. Lalu setiap musim semi tiba, es mencair, dan keajaiban pun tampak terjadi: ikan-ikan mas tersebut muncul dari es dan memulai kehidupan normal kembali.

Tak cukup berhenti di situ saja, di saat es mencair dan ikan-ikan tersebut mulai terbangun, penelitian terbaru menyebutkan bahwa kondisi otak mereka tidak sama dengan saat sebelum membeku. Namun yang menarik, penelitian tersebut menyebutkan pula bahwa otak ikan mas ini dapat pulih kembali dari kondisi anoksia panjang.

Crucian Carp

Mekanisme bagaimana ikan tersebut masih dapat tetap hidup dalam kondisi kekurangan oksigen akut (anoksia) telah dipelajari dengan cukup baik. Ini bergantung pada kandungan glikogen yang tersimpan dalam tubuh. Glikogen ini menghasilkan etanol melalui proses glikolisis. Etanol tersebut membuat hati mereka dapat tetap aktif tanpa memerlukan oksigen, menjaga aliran darah, dan melepaskan etanol di atas insang untuk menghindari keracunan.

Sedangkan apa yang terjadi pada otak mereka sedikit lebih sulit dipahami. Untuk menguji bagaimana otak ikan mas ini merespons musim dingin yang beku, tim peneliti dari Universitas Oslo dan University of West Scotland menangkap ikan mas dari sebuah kolam di dekat Oslo dan membekukannya ke musim dingin buatan di laboratorium.

Awalnya, ikan kekurangan oksigen – kondisi yang biasanya dialami pada musim dingin saat ikan membeku. Setelah seminggu berselang, mereka disuplai oksigen untuk membuat musim semi buatan. Selanjutnya digunakan noda penanda yang digunakan untuk mendeteksi kematian sel dan pertumbuhannya.

Menariknya adalah, kekurangan oksigen tidak menunjukkan perubahan tingkat normal sel mati di otak. Kondisi berubah ketika peneliti mencoba untuk mengoksidasi ulang otak ikan, dan menemukan bahwa jumlah sel mati justru meningkat hingga dua kali lipat.

“Ketika ikan anoksik diberi 1 hari reoksigenasi pada tingkat oksigen normal, peningkatan 170 persen jumlah sel apoptosis terdeteksi,” tulis peneliti Lisa Yuen dalam tesisnya yang kami lansir dari Science Alert. “Apoptosis yang meningkat setelah reoksigenasi menyerupai efek reperfusi setelah iskemia serebral pada mamalia, dimana reperfusi mempercepat laju kematian sel.”

Bagian selanjutnya dari penelitian ini adalah melatih ikan mas tersebut untuk dapat menyusuri kolam labirin sebelum berhasil mendapatkan makanan. Dua jenis ikan diperlakuan berbeda. Ikan pertama dilatih untuk melewati labirin sebelum selanjutnya dibekukan, lalu dibangunkan, dan selanjutnya dimasukkan lagi ke kolam labirin untuk mencari makanannya. Ikan jenis kedua diberi perlakuan lain. Mereka tidak dilatih di kolam labirin, namun langsung dibekukan, lalu dibangunkan kembali, lalu barulah mereka dimasukan ke dalam kolam labirin untuk mencari makanan mereka.

Dari percobaan ini para peneliti menemukan bahwa ternyata kemampuan ikan belum pernah diajari di kolam labirin sebelum dibekukan, sama dengan ikan yang sudah pernah masuk kolam labirin sebelum dibekukan. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tersebut dapat memperbaiki kerusakan otak yang disebabkan oleh reoksigenasi, dan bahwa otak yang rusak itu hanya bersifat sementara.

“Ini membuat ikan mas menjadi model yang menarik dari perspektif biomedis – walaupun tidak mungkin kita menemukan cara untuk membiarkan jaringan manusia bertahan dalam siksaan anoksik yang parah tanpa kerusakan, adalah layak untuk mempelajari hewan seperti ikan mas yang bisa memberi pengetahuan bagaimana kita bisa membatasi dan memperbaiki kerusakannya,” demikian tulis para peneliti di dalam jurnal yang dipublikasikan di Journal of Experimental Biology.

Credit: Science Alert

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply