Mixed Reality: inilah teknologi visual penerus virtual reality!

Pernahkah kamu mendengar tentang Microsoft HoloLens? Microsoft HoloLens adalah teknologi komputasi visual ciptaan Microsoft yang sekilas berfungsi seperti smart glasses atau kacamata pintar. Bedanya adalah teknologi ini mampu mengombinasikan antara virtual reality dengan augmented reality. Sebagaimana kita ketahui, virtual reality adalah teknologi yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dengan objek-objek virtual dalam bentuk 3 dimensi. Interaksi yang dihasilkan sangat “real” sehingga pengguna akan terlibat dalam suatu emosi atau perasaan seperti ketika mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang nyata. Sedangkan augmented reality adalah teknologi yang mampu menggabungkan objek dua dimensi dan objek tiga dimensi, dimana kedua jenis objek tersebut dapat digabungkan ke dalam sebuah lingkungan tiga dimensi dan dalam satu momen waktu yang nyata atau saya lebih suka menyebutnya “real time”. Dalam bahasa Indonesia, augmented reality sering disinonimkan dengan istilah “realitas tertambah”. Teknologi augmented reality telah diaplikasikan kepada banyak bidang; militer, kesehatan, dunia game, industri komunikasi, dan lain sebagainya.

Sebuah kacamata pintar Microsoft HoloLens

Agar lebih dimengerti, saya akan menjelaskan satu-persatu secara lebih mendetail tentang Virtual Reality dan Augmented Reality:

Virtual Reality

Banyak orang menyangka bahwa virtual reality identik dengan teknologi 3-D. Sekilas memang “seperti sama”, namun kedua teknologi tersebut memiliki perbedaan yang mencolok antara satu sama lain. Singkatnya, virtual reality mampu membangkitkan “suasana nyata” sehingga pengguna seolah-olah seperti sedang berada di dunia nyata padahal dia sedang terlibat dengan objek-objek virtual. Sedangkan teknologi 3-D seperti yang kita ketahui hanya membuat objek-objek virtual terlihat memiliki tekstur nyata (lengkap dengan lekukan-lekukan yang tidak tampak pada objek-objek 2-D).

 photo 49CEBDE3-D99A-4AEA-9EAE-C1B2DDB0A54A.jpg

Terlihat kata-kata “Musc” pada gambar di atas memiliki lekukan. Itulah yang dimaksud dengan bentuk 3-D.

Sedangkan virtual reality dapat dijelaskan oleh gambar di bawah:
 photo CA1562BD-0099-4F46-96E6-455E6DC749A3.jpg

Terlihat pengguna dapat seolah-olah menyentuh objek-objek virtual yang “bertebaran” di sekelilingnya.

Augmented Reality

Ronald T. Azuma, seorang pengamat teknologi memberikan sebuah definisi tentang augmented reality. Dia mendefinisikan teknologi tersebut sebagai teknologi yang memungkinkan penggabungan antara objek-objek nyata dan objek-objek virtual. 

Dari sini kita dapat mengetahui perbedaan antara augmented reality dengan virtual reality. Sementara augmented reality adalah penggabungan objek nyata dan maya, virtual reality berfokus pada pengkondisian objek-objek virtual ke dalam “suasana nyata”. Tidak hanya menambahkan, teknologi ini juga mampu “menghilangkan” objek-objek yang memang sudah ada, misalnya dengan “mencangkokkan” objek maya ke dalam suatu objek nyata dengan tujuan menyembunyikan suatu tampilan tertentu dari pandangan mata pengguna. Salah satu bentuk penggunaan dari augmented reality adalah apa yang kita temui dalam Pokemon Go, sebuah game yang sangat populer tahun 2016 lalu. Game ini memungkinkan makhluk-makhluk pokemon ditambahkan pada objek-objek nyata yang dilalui oleh pemain.

 photo DF85BD74-2191-4A3B-8EBA-1487971B18CF.jpg

Terlihat pada gambar di bawah, kertas di meja terlihat pada layar tablet seakan ditindih oleh semacam alat.

Microsoft HoloLens

Nah, Microsoft HoloLens melangkah lebih jauh dari apa yang dicapai oleh teknologi 3-D, virtual reality, ataupun augmented reality. Teknologi ini mampu mewujudkan apa yang disebut dengan “mixed reality”. Mixed reality atau realitas campuran dalam bahasa Indonesia, adalah teknologi yang mampu mentransfer segala objek-objek virtual yang dihasilkan ke dalam dunia nyata sehingga setiap pengguna dapat BERINTERAKSI SECARA LANGSUNG dengan objek-objek tersebut. Tidak hanya itu, teknologi ini juga memungkinkan penggunanya untuk menciptakan hologram sendiri hanya dengan gerakan tangan! Aplikasi ini juga mampu mengenali perintah suara dan tatapan. Setiap pengguna dapat memerintahkan atau mengendalikan hologram-hologram yang muncul hanya dengan kata-kata atau bahkan dengan sorotan mata. HoloLens sesuai namanya dikembangkan oleh Microsoft dan mulai dirilis sejak 2016 lalu. Teknologi ini dijalankan oleh sistem operasi Windows 10 dengan beberapa spesifikasi lain seperti Intel 32 bit architecture, 64 GB flash, 2 GB RAM, dan 2 MP photo/HD video.

Sebuah gambar dapat menjelaskan banyak hal dan semoga gambar di bawah ini dapat membuatmu mengerti apa yang dimaksud dengan mixed reality.

 photo E2E57820-A4D9-4579-A22F-07F60C24FC4D.png

Terlihat dari gambar di atas, dua pengguna dapat menyentuh dan berinteraksi dengan objek virtual “tangan robot”. Tidak seperti di teknologi virtual reality dimana sentuhan-sentuhan memiliki kemampuan terbatas, di teknologi mixed reality, pengguna dapat menyentuh objek virtual seolah mereka sedang menyentuh atau berinteraksi dengan objek nyata. Misalkan jika objek virtual berbentuk balon, pengguna dapat meniup balon itu dan balon itu berubah bentuk layaknya balon nyata sedang ditiup. 

Microsoft sebagai salah satu pelopor dalam teknologi mixed reality, telah berekspansi secara besar-besaran. Raksasa teknologi itu telah mengembangkan tidak kurang dari 150 aplikasi yang terkoneksi dengan Microsoft HoloLens. Secara khusus, Alex Kipman, salah satu teknisi utama Microsoft, menyoroti dua aplikasi terintegrasi (dengan Microsoft HoloLens) sebagai revolusi dalam dunia teknologi. Dua aplikasi tersebut adalah HoloHear yang mampu menerjemahkan suara ke dalam tanda-tanda visual (untuk membantu para penyandang tuna rungu), dan HoloGuide, aplikasi yang mampu menavigasi orang dalam ruangan minim cahaya, seperti ruangan yang dipenuhi dengan asap rokok.

Para Pesaing Microsoft HoloLens

Microsoft bukanlah satu-satunya pengembang teknologi mixed reality. Epic Games adalah salah satu perusahaan pengembang non-Microsoft yang hingga sekarang melayani NASA dalam bentuk penyediaan tempat pelatihan bagi para astronot sebelum mereka dikirim ke tempat-tempat asing di luar angkasa. Dengan teknologi mixed reality, NASA dapat menghemat jutaan dolar dalam memberikan pelatihan dan simulasi-simulasi tentang apa yang terjadi di luar angkasa. NASA tidak lagi harus mengirimkan para astronot pemula ke stasiun luar angkasa untuk sekedar mengenali dan merasakan suasana di luar angkasa. Alih-alih menghabiskan jutaan dolar untuk transportasi dari bumi ke stasiun luar angkasa, badan antariksa Amerika Serikat menggunakan stasiun luar angkasa virtual untuk melatih para astronot pemula. Mereka dapat menyentuh dan berinteraksi dengan segala objek virtual yang tersedia seolah-olah objek-objek tersebut adalah nyata.

Raksasa-raksasa teknologi lain seperti Google dan Facebook juga tidak mau kalah. Virtual reality dan lebih-lebih mixed reality adalah gambaran apa yang mendominasi kehidupan manusia di masa depan. Google dengan platform Daydream-nya dan Facebook dengan Oculus-nya, bersaing dengan Microsoft dan beberapa perusahaan teknologi lain dalam mengembangkan virtual reality dan mixed reality.

Selain berbentuk kacamata pintar, mixed reality juga diaplikasikan dalam bentuk headset, seperti apa yang dinamakan dengan Project Alloy. Ini adalah sistem nirkabel besutan Intel yang dirancang untuk memberikan pengalaman mixed reality tanpa komponen-komponen yang mengganggu. Headset ini memiliki kekuatan komputasi grafik yang kuat sehingga dapat berjalan secara mandiri tanpa harus dihubungkan dengan PC ataupun smartphone. Kedepannya, mixed reality akan menggantikan berbagai perangkat simulasi pelatihan tradisional secara masif sehingga dapat menghemat biaya secara signifikan dalam industri maupun transportasi.

Credit: Reality Technologies, How Stuff Works: Augmented Reality, VRS, Microsoft Hololens

Post Author: Todo Golo

Penulis profesional di bidang sains dan teknologi.

Leave a Reply