Molekul yang tertinggal di ponsel Anda, menunjukkan bagaimana gaya hidup Anda!

Sadarkah Anda jika tangan Anda meninggalkan banyak sekali jenis molekul dan mikroba di ponsel kesayangan Anda? Dan melalui serangkaian pengujian, peneliti akan mampu mengungkap bagaimana gaya hidup sang pemilik ponsel. Termasuk diantaranya adalah bagaimana gaya diet Anda, penggunaan produk higienis, status kesehatan, bahkan tempat-tempat yang terakhir dikunjungi. Penelitian gabungan yang dilakukan oleh University of California San Diego School of Medicine beserta Skaggs School of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences ini akan sangat berguna pada berbagai penggunaan seperti penyelidikan kasus kriminal, pengecekan bandara, pengawasan pengobatan, peserta stratifikasi percobaan klinis, serta pada pengujian paparan lingkungan.

“Anda bisa membayangkan ketika sebuah skenario investigasi kasus kriminal yang hanya menemukan sebuah objek personal sebagai petunjuk — seperti ponsel, pena, atau kunci — tanpa ada sidik jari atau DNA, atau mungkin data DNA tidak diketemukan di basis data. Mereka mungkin tidak akan berhasil menemukan siapa pemilik objek tersebut,” ungkap Profesor Pieter Dorrestein, PhD, pemimpin penetlitian ini dikutip dari Science Daily. “Maka kami kira, bagaimana jika kami dapat mengambil keuntungan dari kimia kulit yang tertinggal untuk mengetahui gaya hidup seperti apa yang dimiliki oleh pemiliknya?”

161114152820_1_900x600

Sebelumnya pada tahun 2015, tim Profesor Dorrestein melakukan sebuah penelitian untuk membangun model 3D dari molekul dan mikroba yang ditemukan pada ratusan lokasi berbeda di dua sukarelawan penelitian. Melalui penelitian tersebut para ilmuwan terkejut dengan hasil nyata yang mereka dapatkan termasuk dengan ditemukannya berbagai molekul tak terduga yang merupakan molekul sisa penggunaan produk-produk higienis dan kosmetik.

“Semua zat kimia tersebut dapat kita temukan di sekujur tubuh kita dan mampu berpindah ke objek lain,” kata Dorrestein. “Maka kita mungkin dapat mengungkap sebuah profil gaya hidup seseorang berdasarkan kandungan kimia yang dapat terdeteksi dari objek-objek yang sering mereka gunakan.”

Penelitian lebih lanjut, Dorrestein dan timnya mengundang 39 responden sehat yang bersedia untuk menjadi sukarelawan penelitian. Tim peneliti kemudian meminta kepada setiap empat responden untuk saling bertukar ponsel — sebuah objek yang dianggap paling sering dipegang — serta delapan titik sampel di masing-masing tangan kanan responden, sehingga total peneliti mendapatkan 500 sampel. Kemudian para peneliti menggunakan teknik bernama spektrometri massa untuk mendeteksi molekul-molekul yang ada pada setiap sampel. Mereka berusaha sebanyak-banyaknya mencatat molekul-molekul yang mungkin ditemukan pada setiap sampel tersebut, serta mencocokkannya dengan data yang mereka miliki di basis data mereka.

Melalui cara ini, para peneliti mampu memberikan sebuah simpulan gaya hidup untuk masing-masing ponsel responden. Mereka menemukan berbagai macam zat kimia termasuk diantaranya adalah krim kulit anti jamur, perawatan rambut, obat anti-depresi, hingga obat tetes mata berhasil mereka deteksi. Berbagai molekul makanan juga berhasil mereka deteksi seperti kandungan jeruk, kafein, sayur-sayuran hingga lombok. Bahan-bahan seperti tabir surya dan krim anti nyamuk dapat dideteksi bahkan hingga berbulan-bulan setelah pemakaian, hal ini menunjukkan gaya hidup jangka panjang dari objek peneliti juga dapat dideteksi.

“Dengan menganalisa molekul-molekul yang tertinggal di ponsel mereka, kami dapat mengetahui apakah pemilik cenderung laku-laki atau perempuan, menggunakan kosmetik bermerk atau tidak, menggunakan pewarna rambut atau tidak, peminum kopi atau bukan, lebih memilih bir atau anggur, menyukai makanan pedas atau tidak, sedang dalam proses perawatan depresi atau tidak, menggunakan krim tabir surya atau anti nyamuk,” demikian penjelasan Amina Bouslimani, PhD, asisten penelitian laboratorium Profesor Dorrestein. “Ini akan memberikan informasi yang membantu investigator untuk menemukan pemilik objek yang sedang ia teliti.”

Satu kelemahan yang paling nampak dari metode ini adalah keakuratannya yang tidak bisa menyaingi keakuratan sidik jari. Dibutuhkan basis data yang sangat luas sehingga setiap molekul dan bakteri yang ditemukan pada objek pribadi seseorang dapat teridentifikasi. Semakin banyak jenis molekul dan bakteri yang tersimpan di dalam basis data, maka akan semakin sempit kemungkinan karakter seseorang dapat disimpulkan. Oleh karena itu tim peneliti Dorrestei saat ini terus melakukan penelitian dengan mengundang 80 responden baru untuk semakin memperkaya basis data miliknya. Dengan langkah ini ia berharap dapat semakin memperkaya basis data miliknya serta mampu membantu dunia forensik.

Credit: Science Daily, PNAS

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply