Pertama kalinya, sebuah chip yang ditanam di otak dapat membantu orang lumpuh untuk bisa merasakan sentuhan lagi!

Hal tersebut dialami oleh seorang 28 tahun bernama Nathan Copeland, setelah ia melakukan operasi otak untuk menghubungkan otaknya dengan sebuah sistem bernama Brain Computer Interface (BCI). Sistem komputer canggih ini dikembangkan oleh sekelompok ilmuwan dari University of Pittsburgh dan UPMC (University of Pittsburgh Medical Center) yang dipimpin oleh Robert Gaunt, Ph.D., seorang asisten profesor di universitas tersebut. Pada sebuah demonstrasi yang dipublikasikan melalui Science Translational Medicine, untuk pertama kalinya setelah 12 tahun lumpuh, Copeland bisa merasakan kembali sentuhan melalui tangan robot yang ia kendalikan langsung oleh otaknya.

“Satu hasil paling penting dari penelitian ini adalah bahwa teknologi simulasi-mikro pada sensor kortex dapat memberikan sensasi natural ketimbang hanya rasa gelitik,” ungkap Andrew B. Schwartz, Ph.D., salah satu anggota tim peneliti. “Simulasi ini aman, dan pemberian sensasi relatif stabil hingga berbulan-bulan. Namun masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk dapat lebih memahami pola simulasi yang dibutuhkan untuk membantuk pasien menghasilkan gerakan yang lebih baik.”

Pada tahun 20014, Nathan sedang berkendara di malam hari di bawah hujan lebat. Saat itulah ia mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan lehernya terbentur dan membuat syaraf tulang belakangnya terganggu. Sejak saat itu ia mengalami quadriplegia, atau kelumpuhan total mulai bagian atas dada hingga ke bawah anggota tubuh. Ia pun sempat melanjutkan kuliah untuk mempelajari nano-fabrikasi, namun harus tertunda untuk menyelesaikannya karena kondisi kesehatannya yang tidak mendukung. Namun sejak ia lumpuh, ia sudah mendaftarkan diri untuk ikut dalam percobaan kesehatan yang dilakukan oleh tim dari University of Pittsburgh. Hanya saja baru satu dekade kemudian tim peneliti memanggilnya untuk sebuah eksperimen.


Awalnya Nathan melakukan beberapa tes pemeriksaan. Salah satunya adalah pemetaan otak, untuk menentukan titik dimana sensor indera perasa jari dan telapak tangan terhubung dengan otaknya. Setelah melewati serangkaian tes lain, Nathan masuk ke ruang operasi. Saat itu, Elizabeth Tyler-Kabara, M.D., Ph.D., salah satu anggota tim peneliti sekaligus asisten profesor Departemen Bedah Neurologi, mengimplan empat buah mikro-elektroda yang masing-masing berukuran separuh kancing baju ke otak Nathan.

“Saya bisa merasakan kesemua jari — ini sebuah sensasi yang sangat aneh,” ucap Nathan satu bulan setelah operasi. “Kadang-kadang merasakan seperti tersetrum dan kadang sebuah tekanan, tapi yang paling penting, saya bisa memerintahkan hampir semua jari dengan sangat presisi. Ini seperti jari saya sedang disentuh atau ditekan.”

Sesuai dengan penjelasan Dr. Tyler-Kabara, saat ini Nathan hanya bisa merasakan sensasi sentuhan dan tekanan saja, belum bisa merasakan sensasi panas ataupun dingin. Namun tentu saja ini adalah sebuah kemajuan penting dalam penggabungan dunia pengobatan, kesehatan, serta teknologi sensor dan robotika. Michael Boninger, M.D., seorang profesor pengobatan fisik dan rehabilitasi di rumah sakit terkait, tak luput untuk memberi pujian kepada Dr. Gaunt dan timnya. Ia menyebut bahwa tim peneliti ini telah menghasilkan lompatan demi lompatan penelitian, dari mulai mempelajari pemrosesan sensor dan sinyal motorik di otak, hingga pengaplikasiannya kepada pasien.

“Tujuan utama kami adalah membuat sistem yang bergerak dan merasakan persis seperti tangan normal,” ungkap Dr. Gaunt dikutip dari Science Daily. “Kami masih punya jalan panjang untuk mencapainya, namun tentu saja ini merupakan awal yang luar biasa.”

Tidak berhenti di situ saja, sebuah event pameran teknologi yang dihelat di Gedung Putih, Washington bertajuk White House Frontier Conference, menjadi pengalaman terbaru bagi Nathan. Untuk pertama kalinya ia bersalaman dengan Presiden Barrack Obama menggunakan tangan prostetiknya. Tak hanya bersalaman, Presiden Obama juga mengajak Nathan untuk tos-tinju, sebuah tos khas ala Amerika.

 photo A70FEEEA-47A9-4195-9303-519E0CF31D01.jpg

“Sebuah presisi yang luar biasa!  Saat saya menggerakkan tangan, sebuah sinyal dikirim ke Nathan sehingga ia pun merasakan sentuhan dan gerakan tangannya,” demikian Presiden Obama menanggapi teknologi ini. Nampaknya teknologi tangan robot Luke Skywalker akan segera lahir.

 photo 48877B51-5BC1-4716-A39C-D1071605D9D8.jpg

Credit: Science Daily

Post Author: Onny

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply