Rekor efisiensi panel surya berbahan baku perovskites kembali terpecahkan!

Perovskites, sebuah material jenis baru yang digadang-gadang akan menjadi bahan baku panel surya di masa depan memiliki berbagai keunggulan seperti fleksibilitas tinggi, murah, serta mudah untuk dibuat. Bahkan nantinya dengan hanya menyemprotkan bahan ini ke sebuah permukaan, maka permukaan benda tersebut telah berubah fungsi menjadi panel surya. Dan baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of New South Wales (UNSW), Sidney, Australia, berhasil menghadirkan sebuah komposisi panel surya yang mampu memecahkan rekor efisiensi tertinggi dalam sejarah sel surya berbahan baku material revolusioner tersebut.

Hasil penelitian ini disampaikan oleh Anita Ho-Baille selaku pemimpin tim peneliti dalam sebuah Konferensi Riset Solar Asia-Pasifik di Canberra, Jumat 2 Desember lalu. Dalam konferensi tersebut Ho-Baille menyampaikan capaian angka 12,1% sebagai efisiensi terbaik atas panel surya perovskite tunggal berukuran 16 cm2. Bahkan mereka mampu mencapai efisiensi hingga 18% pada satu sel surya perovskite berukuran 1,2 cm2 serta 11,5% pada seperangkat panel surya empat sel perovskite berukuran 16 cm2. Angka tersebut bahkan sepuluh kali lebih efisien dibandingkan dengan purwarupa panel surya perovskite sebelumnya yang pernah dikembangkan.

161201114543_1_900x600

“Ini merupakan riset area panas, dengan banyak sekali tim yang berkompetisi demi desain photovoltaic tingkat lanjut,” ungkap Ho-Baillie. “Perovskite tidak berkembang banyak sejak tahun 2009, dengan efisiensi hanya 3,8%, dan melalui berbagai lompatan dan hambatan. Kondisi ini menmpatkan UNSW pada sebuah tim peneliti terbaik di dunia yang mampu menghasilkan solar sel perovskite performa tinggi. Dan saya kita kami dapat mencapai angka 24% dalam setahun ke depan.”

Perovskite adalah sebuah mineral kalsium titanium oksida berstruktur kimia CaTiO3, yang ditemukan pertama kali oleh Gustav Rose di tahun 1839 dan diberi nama sesuai dengan nama seorang menerolog Rusia bernama Lev Perovski. Dalam perkembangannya material ini sangat cocok dikembangkan sebagai bahan panel surya karena proses produksi yang lebih sederhana dan murah jika dibandingkan dengan panel surya konvensional.

“Sifat versatilitas dari larutan perovskite ini membuatnya sangat mungkin digunakan sebagai pelapis semprot, dicetak atau juga dicatkan sebagai sel surya,” sambung Ho-Baillie. “Keragaman komposisi kimia juga dapat membuat sel transparan, atau juga dibuat dalam berbagai warna. Bayangkan jika kita nantinya mampu menutup setiap permukaan bangunan, peralatan serta mobil dengan menggunakan sel surya.”

Selama ini, panel surya konvensional terbuat dari kristal-kristal silikon yang dalam salah satu langkah proses pembuatannya harus dipanggang pada suhu 800 derajat Celcius. Di sisi lain, panel surya perovskite dapat dibuat melalui temperatur rendah serta bahkan 200 kali lebih tipis dari panel surya konvensional. Sekalipun demikian, bahan perovskite saat ini masih terlalu rentan terhadap perubahan kondisi panas serta kelembaban lingkungan. Hal ini membuatnya hanya mampu bertahan beberapa bulan jika tanpa dilapisi lapisan pelindung.

Martin Green, Direktur Australian Centre for Advanced Photovoltaics, mentor dari Ho-Baillie, berjanji akan mengkomersialisasikan panel surya berbahan perovskite ini. Bahkan ia menargetkan untuk dapat mencapai efisiensi 26%, mengejar efisiensi panel surya konvensional saat ini.

Credit: Science Daily, Wikipedia: Perovskite

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply