Sains berhasil mengungkap: jika seseorang sudah sedikit saja berbohong, kerja otak menurun dan akan mendorong untuk berbohong lebih besar lagi!

Berbohong menjadi salah satu fenomena yang sudah sangat mendarah daging di kehidupan sosial kita. Bahkan tidak sedikit orang menganggap berbohong sudah menjadi sesuatu yang lazim, mengalahkan kejujuran yang seharusnya menjadi tanggung jawab moral setiap individu dalam bersosialisasi. Ilmu psikologi terus mempelajari aktifitas ketidakjujuran, dan berusaha mengungkap mengapa sedikit kebohongan bisa mendorong ke kebohongan-kobohongan selanjutnya yang lebih besar. Hingga akhirnya kemajuan teknologi pemindai otak manusia dapat mengungkap fakta medis dibalik berbohong.

Sebuah studi dilakukan oleh University College London, Inggris, untuk mengetahui secara empiris bagaimana hubungan otak manusia dengan peningkatan level berbohong. Para ilmuwan melakukan pemindaian otak fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) terhadap 80 responden, sembari memberikan beberapa simulasi kasus kepada mereka. Responden diberi beberapa kasus berupa sesuatu hal yang seakan-akan bisa menguntungkan dirinya dan rekannya; menguntungkan dirinya dan merugikan rekannya; menguntungkan rekannya dan merugikan dirinya; atau menguntungkan salah satu dari mereka tanpa memberi efek kepada yang lainnya.

img_0189

Melalui metode ini para ilmuwan menemulan bahwa bagian otak amigdala, bagian yang sangat berhubungan dengan aktifitas emosi manusia, menjadi sangat aktif ketika responden melakukan kebohongan kecil pertama demi keuntungan dirinya. Menariknya, reaksi amigdala semakin menurun seiring dengan peningkatan kekuatan berbohong responden. Bahkan lebih krusial lagi, penurunan semakin besar dari aktifitas amigdala diprediksi akan mendorong kebohongan lebih besar di masa depan.

“Saat kita berbohong demi keuntungan pribadi, amigdala memberi perasaan negatif yang akan membatasi tingkat dimana kita sedang bersiap-siap untuk berbohong,” Dr Tali Sharot (UCL Experimental Psychology) berusaha menjelaskan. “Namun, respon ini akan memudar jika kita terus berbohong, dan jika semakin rendah maka akan semakin besar kebohongan kita. Hal ini dapat mendorong kepada sebuah ‘degradasi moral’ ketika ketidakjujuran kecil terus meningkat menjadi kebohongan besar.”

Pada saat responden semakin mengharapkan keuntungan di saat rekan mereka merugi, ia mulai sedikit membesar-besarkan harapannya yang justru akan meningkatkan aktifitas amigdala. Eksperimen menunjukkan bahwa sikap membesar-besarkan semakin meningkat seiring dengan penurunan respon amigdala.

“Hal ini seperti respon otak menjadi semakin tumpul jika ketidakjujuran dilakukan berulang-ulang serta mencerminkan penurunan respon emosional,” ungkap pemimpin penelitian Dr Neil Garrett (UCL Experimental Psychology). “Hal ini sejalan dengan pemahaman kita bahwa signal amigdala menjadi enggan untuk merespon seiring dengan sikap salah atau amoral. Kami hanya menguji ketidakjujuran pada eksperimen ini, namun prinsip-prinsip yang sama bisa saja terjadi pada peningkatan sikap yang beresiko lainnya.”

 photo B5072351-8A77-4B7F-870A-87C67CBA7EB0.jpg
Lokasi Amigdala

Amigdala adalah dua bagian di dalam otak yang berbentuk seperti kacang almond serta berlokasi di tengah-tengah bagian otak. Amigdala sangat berperan penting terhadap perilaku emosional manusia. Seseorang dapat mengingat sesuatu karena sebuah emosi yang ia rasakan, juga menjadi fungsi utama dari bagian ini. Bahkan degradasi fungsi amigdala dapat menurunkan kemampuan memorik emosional seseorang.

Dengan fakta yang diungkap melalui penelitian ini serta keterkaitannya dengan fungsi amigdala, tentu semakin membuka pemahaman baru akan aktifitas psikologis terkait dengan fungsi otak manusia. Namun tentu masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut apakah perilaku ketidakjujuran berkaitan langsung dengan tumpulnya respon emosional seseorang. Penelitian lebih dalam juga perlu dilakukan atas berbagai perilaku lain yang mungkin saja berpengaruh terhadap aktifitas otak manusia.

Credit: Science Daily, Wikipedia: Amygdala, Nature Journal

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply