Sebuah Studi Kelayakan Membuktikan: Ekonomi Indonesia 2045 Sangat Layak Masuk Lima Besar Dunia!

Sebuah jurnal yang diterbitkan oleh International Journal of Technology, Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa Indonesia sangat layak untuk masuk menjadi lima besar ekonomi terbesar di tahun 2045. Dengan menguji 45 skenario cost-sharing, uji kelayakan finansial untuk investasi sarana infrastruktur manufaktur yang terus digenjot oleh pemerintah Indonesia, diperkirakan mampu menghasilkan Internal Rate of Return (IRR) paling optimal sebesar 15,62%. Dari hasil analisis biaya siklus hidup dan simulasi dinamika sistem, menunjukkan bahwa dengan modal awal yang dibutuhkan sebesar USD 254 juta dan biaya operasi dan pemeliharaan (OM) sebesar USD 224,29 juta, pengembangan tersebut dianggap layak secara finansial, menghasilkan pendapatan sebesar USD 872,38 juta. untuk masa konsesi 40 tahun.

Presiden Joko Widodo telah mencanangkan bahwa ekonomi Indonesia akan masuk ke dalam lima besar dunia di tahun 2045, tepat ketika kita merayakan 100 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk mencapainya, pemerintah berkomitmen untuk mereformasi ekonomi berbasis sumber daya alam, menjadi ekonomi berbasis manufaktur dan servis modern. Pemerintah menekankan pada investasi di banyak infrastruktur regional yang saling terintegrasi dengan baik.

Berdasarkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pemerintah membagi wilayah Indonesia menjadi enam koridor pembangunan daerah yakni Koridor Sumatera, Koridor Jawa, Koridor Kalimantan, Koridor Sulawesi, Koridor Bali-Nusa Tenggara, dan Koridor Papua-Maluku. Pembangunan keenam koridor tersebut difokuskan ke pembangunan infrastruktur, akselerasi kapasitas Sumber Daya Manusia, serta pembangunan sains dan teknologi demi mendukung aktifitas ekonomi masing-masing koridor.

Pembangunan banyak infrastruktur yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah saat ini memang memiliki dampak positif terhadap ekonomi nasional. Namun menurut perkiraan Bappenas, diperkirakan pemerintah hanya mampu menanggung 37% dari total anggaran yang diperlukan untuk pembangunan tersebut.

Penelitian oleh Mohammed Ali Berawi dan rekan-rekannya ini menarik kesimpulan bahwa dibutuhkan keterlibatan sektor swasta untuk mendukung program pemerintah tersebut. Melalui skema pembagian-biaya yang optimal, studi ini berhasil memperkirakan angka IRR optimal cukup tinggi yakni mencapai 15,62%. Angka tersebut menunjukkan bahwa skema pembagian-biaya memberikan opsi pembiayaan yang lebih optimal dengan nilai IRR yang lebih tinggi dan alokasi tanggung jawab dan risiko yang adil.

 

Referensi: Berawi, M.A., Putri, C.R., Sari, M., Salim, A.V., Saroji, G., Miraj, P., 2021. Infrastructure Financing Scheme Towards Industrial Development. International Journal of Technology. Volume 12(5), pp. 935-945

DOI : https://doi.org/10.14716/ijtech.v12i5.5202

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply