Terapi cahaya berpotensi menyembuhkan Alzheimer!

Penyakit alzheimer, yang pada tahun 2013 lalu sudah diderita oleh satu juta orang di Indonesia dan terus bertambah tiap tahunnya, memiliki karakteristik timbulnya plak amiloid beta yang sangat berbahaya bagi sel otak dan berpengaruh terhadap fungsi otak. Berbagai penelitian telah dilakukan seperti mencoba menyerang plak amiloid beta pada tikus dengan menggunakan obat-obatan. Namun hingga saat ini sekalipun obat-obatan tersebut berhasil mereduksi plak dari dalam otak tikus, belum ada satupun yang berhasil diaplikasikan ke manusia.

Kabar cukup menjanjikan datang dari Massachusetts Institute of Technology, dimana para peneliti mereka berhasil mengurangi gejala alzheimer tanpa menggunakan obat. Mereka menggunakan terapi cahaya ossilasi gamma untuk memerangi gejala-gejala alzheimer yang dialami oleh tikus-tikus laboratorium. Tikus-tikus tersebut diprogram secara genetika sehingga mengidap alzheimer, namun belum sampai terbentuk plak amiloid beta. Pada kondisi tersebut mereka diberi sinar ossilasi gamma dengan frekuensi penyinaran 25 hingga 80 hertz.

 photo 262EFBF6-B08D-4C0C-A2D4-35F9E2486C93.jpg

Stimulus sinar ossilasi gamma tersebut berupa sebuah kedipan cahaya lampu LED yang berkedip sesuai dengan frekuensi yang dapat ditentukan. Stimulus ini diketahui langsung menyerang bagian otak bernama hippocampus yang memiliki fungsi kritis dalam pembentukan memori. Pada frekuensi 40 hertz, teknik yang diberi nama optogenetik ini diketahui memberikan efek paling optimum. Dengan menggunakan pendekatan ini para peneliti mampu menstimulus sel otak khusus bernama interneuron.

Setelah proses stimulasi selama satu jam, para ilmuwan berhasil mereduksi 40 hingga 50 persen jumlah protein amiloid beta di dalam hippocampus. Protein amiloid beta merupakan cikal bakal plak amiloid beta. Namun protein tersebut masih mampu kembali ke bentuk originalnya setelah 24 jam berlalu. Di sinilah tantangan selanjutnya bagi para ilmuwan, mampu mereduksi protein tersebut secara permanen.

Penelitian lanjutan yang sudah dilakukan oleh tim ilmuwan pimpinan Profesor Li-Huei Tsai ini adalah melakukan perlakuan sama terhadap plak beta amiloid tikus. Penelitian lanjutan ini dilakukan dengan jalan memberikan stimulus ossilasi gamma 40 hertz selama satu jam setiap harinya dalam satu minggu. Setelah percobaan tersebut dilakukan terhadap tikus laboratoriun jenis yang sama, mereka berhasil mengetahui adanya penurunan jumlah plak amiloid beta.

Lebih lanjut, saat ini para peneliti masih harus melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui tingkat keawetan reduksi plak amiloid tersebut. Selain itu Profesor Tsai dan timnya masih meneliti juga efek stimulus ossilasi gamma terhadap bagian otak yang lebih luas lagi. Mereka juga ingin memastikan bahwa pengurangan jumlah plak amiloid dapat mengurangi efek alzheimer. Jika metode ini berhasil, tentu dapat menjadi solusi hebat bagi para penderita alzheimer.

Credit: Nature, Science Daily, New Scientist.

Post Author: Onny

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply