Ternyata begini cara bakteri ini bertahan hidup jauh di bawah tanah tanpa cahaya matahari: memakan hidrogen!

Jauh di bawah permukaan Bumi, kehidupan menemukan jalannya sendiri. Jejak cyanobacteria telah ditemukan lebih dari 600 meter di bawah tanah berbatu di Spanyol. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata mikroba dapat bertahan tanpa sinar matahari.

Alih-alih berfotosintesis seperti cyanobacteria pada umumnya, mikroorganisme yang kekurangan cahaya ini justru menciptakan energi dengan menggunakan hidrogen. Temuan ini diungkapkan oleh para peneliti melalui sebuah jurnal yang diterbitkan di Proceeding National Academy of Sciences.

Citra mikrograf cyanobacteria ditunjukkan dengan warna ungu dan biru
Citra mikrograf cyanobacteria ditunjukkan dengan warna ungu dan biru

“Kami awalnya melakukan pengeboran untuk jenis bakteri lain yang biasa hidup jauh di bawah tanah,” ungkap salah satu penulis studi Fernando Puente-Sánchez, yang seorang ahli geomikrobiologi di Pusat Nasional Bioteknologi di Madrid. Ketika tim menemukan cyanobacteria, itu “tidak terduga, berlawanan dengan intuisi,” imbuhnya.

Cyanobacteria membantu menciptakan udara yang kita hirup hari ini, dengan pertama kali bersendawa oksigen ke atmosfer pada lebih dari 3,2 miliar tahun yang lalu. Karena metabolisme mikroba jenis ini biasanya tergantung pada fotosintesis, maka umumnya cyanobacteria hidup di area yang terpapar sinar matahari.

Para peneliti mengidentifikasi cyanobacteria menggunakan pewarna fluorescent yang menempel pada RNA mikroba. Karena material genetik yang rapuh ini cepat terdegradasi setelah organisme mati, para ilmuwan menyadari bahwa cyanobacteria saat ini harus berkembang di komunitas mikroba bawah tanah meskipun kurangnya sinar matahari. Puente-Sánchez dan timnya juga melakukan tes untuk memastikan sampel mereka tidak terkontaminasi oleh cairan pengeboran, peralatan laboratorium, atau bahkan mikroba lain yang hidup di tempat yang sama pada peneliti itu sendiri.

Mikroba membutuhkan dua hal untuk bertahan hidup dalam kondisi yang keras ini, para peneliti berhipotesis: gas hidrogen dan agen pengoksidasi seperti nitrit oksida, yang bertindak sebagai saklar on-off untuk reaksi yang akan memungkinkan cyanobacteria memakan hidrogen. Dalam sampel yang mengandung bahan genetik cyanobacteria, hidrogen di sekitarnya langka, yang menunjukkan mikroba ini melakukan sesuatu pada gas tersebut. Mikroba bawah permukaan lainnya diketahui memakan hidrogen, karena kelangkaan nutrisi di lingkungan tersebut.

“Jika ada energi yang dapat dieksploitasi kehidupan, kehidupan memang melakukan itu,” kata Tina Treude, ahli geomikrobiologi laut di UCLA yang tidak terlibat dalam penelitian itu sesuai yang kami lansir dari laman Science News. Dia berharap temuan itu akan mendorong peneliti lain untuk mengevaluasi kembali studi sebelumnya yang juga telah mengisyaratkan kehadiran cyanobacteria di bawah permukaan Bumi.

Para ilmuwan telah lama mengembangkan teori tentang bagaimana kehidupan bisa hidup di area yang nampak seperti tidak mungkin ada kehidupan, seperti area yang jauh di bawah permukaan Bumi ini. Teori-teori ini ingin menjelaskan bagaimana kehidupan di luar Bumi bisa ada. “Dengan penemuan semacam ini yang mendorong pemahaman kita tentang metabolisme ke depan, Anda selalu membuka kotak pertanyaan baru,” imbuh Treude.

Credit: Science News

Post Author: Onny Apriyahanda

"Science is the highest Art in the universe."

Leave a Reply